Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tafsir Aktual: Kafir (2)

A
Penulis: Ainul Hafidz❯

Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.


Advertisement

WANTI-WANTI Tuhan yang kedua adalah, agar jangan sampai kita terpengaruh oleh mereka, baik dari sisi gaya hidup, pola pikir dan lain-lain.

Mereka selalu mempengaruhi orang beriman ke pola kehidupan moderen yang notabenenya banyak yang melanggar syari’ah.

Mereka punya job diskripsi dan perencanaan matang. Ada bagian yang bertugas mempengahuri anak-anak muda Islam.

Advertisement

Mereka dipengaruhi agar berpola kehidupan ala barat yang bebas dan tak kenal mahram.

Bagaimana pergaulan antar cewek-cowok menjadi rusak dan tidak mempedulikan syari’ah. Lewat film, media sosial, pesta dan lain-lain.

Ada yang membidangi wanita-wanita muslimah. Ada yang menekuni bidang transaksi, bisnis dan yang sangat perlu diperhatikan adalah bidang pendidikan.

Advertisement

Anak didik sudah dikenalkan hak asasi manusia, kebebasan, kesetaraan secara gelondongan tanpa ada penjelasan lebih lanjut mengenai batasan-batasan dan etika.

Jadinya, siswa yang masih di bangku sekolah berpotensi ngelunjak and ngelamak.

Ditegur, diberi pelajaran fisik oleh gurunya sedikit saja melapor ke polisi.

Orang tuanya ikut ngelabrak ke sekolah. Nik gak mau menyadari, jawaban terbaik adalah ayat ini: Lakum dinukum wa liy din. Wis dewe dewe ae.

Kembalikan siswa tersebut ke orang tuanya, biar dididik sendiri.

Sebab yang kewajiban mendidik anak – aslinya – adalah orang tuanya sendiri.

Kok enak.. gawe anak tok, mendidiknya diserahkan orang lain. Nik gak cocok sedikit, marah-marah.

Nik anake pinter ngelenggem.

Demi menjaga martabat guru dan wibawa pendidikan, semua kepala sekolah wajib bersatu menghadapi persoalan ini.

Tidak boleh menerima pindahan siswa yang orang tuanya macam begini ini dan jangan ada yang sok pahlawan.

Meski begitu, yang berwenang harus menyelesaikan kasus tersebut secara internal sesuai kode etik pendidikan.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menginstruksikan agar orang tua memberi pelajaran fisik kepada anak yang membandel dan tak mau salat.

Umur tujuh tahun, dididik, diperintah dan disemangati. Ketika sudah berusia sepuluh tahun kok tetap mokong dan gak mau salat, yo dipukul secara edukatif. Mengapa..?

Sebab sifat masing-masing anak itu berbeda. Ada anak yang pengertian, hanya dengan isyarat mata saja sudah mengerti dan patuh.

Ada yang dengan kata-kata, baru mengerti. Ada juga yang dipecicili gak ngerti, diomongi gak digubris. Terus diapakan..?

Balik ke makna asli, lakum dinukum wa liy din.

Jika nonmuslim mekso-mekso mengajak toleransi agama seperti ditera pada latar belakang historis di atas, maka sebagai muslim wajib menolak dengan tegas dan siap menghadapi resiko.

Jadi, ayat tersebut harus disampaikan dengan ekspresi yang tegas, bukan dengan klemar-klemer dan seyum lemah. Allah a’lam. (*)

Penulis: KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

 

Advertisement

Artikel Terkait

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang. Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”.

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.

Tamu Kehormatan

Tamu Kehormatan

’’BARANG siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu orang asing di rumahnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer