Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tafsir Aktual: Zalzalah (4)

A
Penulis: Ainul Hafidz❯
Rubrik opini KH Mustain Syafii.
Rubrik opini KH Mustain Syafii.

YAUMAIDZ yashdur al-nas asytata liyuraw a’malahum.


Advertisement

Pada hari kiamat itu semua manusia keluar dari kuburan dalam keadaan hidup, berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan semua amal perbuatan mereka.

Baik yang baik maupun yang buruk.

Yang dimaksud ’’asytata’’ (berkelompok-kelompok) kebanyakan mufassirin memaknai sesuai amal masing-masig kala di dunia dulu.

Advertisement

Mereka yang beramal baik mengelompok, bergabung bersama teman-temannya yang sama-sama punya baik. Begitu halnya mereka yang amalnya buruk.

Ya, saat itu ikatan jiwa kebaikan melekat dan nyambung ke kebaikan. Sinyal dan frekuensinya sama.

Begitu halnya mereka yang perbuatannya buruk, frekuensinya buruk dan bergabung dengan sesama buruk.

Advertisement

Jadi, besok di hari kiamat itu, masing-masing mausia podo pangerten secara otomatis dan saling mencari untuk bergabung degan sesama teman yang pas dan seidentitas.

Kelompok baik diistilahkan dengan ashhab al-yamin, kelompok kanan. Dan yang buruk dinamai ashhab al-syimal, kelompok kiri.

Jadi, jamaah pengajian ngelumpuk bersama jamaah pengajian. Sing bajingan yo ngumpul podo bajingane.

Dan itu wajar, seorang ahli ibadah, aktif membaca Alquran, bersedekah, jamaah thariqatan tidak mungkin gandeng renteng dan berteman dengan orang ahli maksiat, melacur, suka mabuk-mabukan, nyolongan dan lain-lain.

Dari mana kecenderungan berkelompok dengan sesama itu..?.

Jawabnya adalah: ’’Nur fi wujuhihim dan seterusnya.” Cahaya yang memancar dari wajah masing-masing.

Bahkan dari anggota tubuh. Itu dikenali dan dimengerti sebagai anggota kelompok sendiri. Cahaya itu, antara lain efek dari basuhan air wudu.

Air wudu yang mengena di wajah kita, di tangan kita, di rambut kepala kita, di telinga kita, di kaki kita kelak akan memancarkan cahaya khas yang indah dan dikenali.

Makanya, jika berwudu, basuhannya yang sempurna.

Orang yang berwudu dengan membasuh rambut secara banyak nan merata, maka pancaran cahayanya kelak pasti berbeda dengan yang sekedar mngusap sedikit dan ala kadarnya.

Yang banyak lebih mencorong dan cemerlang, sementara yang crit, tul-tul, sekedarnya pasti sinarnya menderip-menderip.

Anak kecil saja punya sensitifitas dan naluri berteman dan berkelompok.

Jika dalam suatu kelompok bermain ada anak yang nakalan, suka mangambil barang milik temannya, suka memukul, maka temannya yang baik-baik tak sudi bergabung dan menjauh.

Sebaliknya, teman yang sesama brengsek malah bergabung.

Akhirnya Geng-Gengan podo cilik-nya. Bahkan naluri berkelompok itu juga ada di kalangan binatang.

Tidak mungkin kawanan ayam berteman dengan garangan, musang, nyambik atau biawak. Bahkan anjing dan srigala saja tidak ketemu.

Makanya, di dalam Alquran dua hal dengan sifat berlawanan sering gandeng dan dikontraskan. Ada cahaya (nur), ada kegelapan (dzulumat).

Ada baik (khair), ada buruk (syarr). Ada siang (nahar), ada malam (lail), ada pria (dzakar), ada wanita (untsa) dan seterusnya.

Ya, agar lebih jelas dan mudah dimengerti. (*)

Penulis:

KH Mustain Syafii, Mudir PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang

Advertisement

Artikel Terkait

Student Journalism: Keutamaan Menuntut Ilmu 

Student Journalism: Keutamaan Menuntut Ilmu 

Kamis (22/10), di Masjid Agung Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Ustaz Ainur Rofiq Alhafiz, menjelaskan keutamaan mencari ilmu.

Student Journalism: Haram Mematuhi Pemimpin Zalim

Student Journalism: Haram Mematuhi Pemimpin Zalim

Selasa (20/10), di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Ustaz Ilham menjelaskan larangan membantu pemimpin yang berbuat zalim.

Hari Santri di Tebuireng Jombang, Gus Kikin Serukan Jihad Keilmuan

Hari Santri di Tebuireng Jombang, Gus Kikin Serukan Jihad Keilmuan

Ribuan santri mengikuti apel Hari Santri di Ponpes Tebuireng, Jombang. Gus Kikin mengajak santri memperkuat ilmu pengetahuan dan menjaga persatuan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer