Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menyambut Ramadan dengan Laku Budaya

A
Penulis: Ainul Hafidz❯

Hafis Muaddab MPd, Guru SMKN 1 Jombang
Hafis Muaddab MPd, Guru SMKN 1 Jombang


Advertisement

DI tengah geliat modernitas, masyarakat Jawa tetap memelihara cara khas dalam menyambut datangnya Ramadan.

Bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, Ramadan diperlakukan sebagai tamu agung yang perlu disambut dengan kesiapan lahir dan batin.

Di sejumlah daerah, tradisi seperti nyadran dan megengan menjadi ruang perjumpaan antara budaya lokal dan nilai-nilai syariat Islam yang hidup berdampingan secara harmonis.

Advertisement

Alquran menegaskan tujuan puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 disebutkan, ’’Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa itulah orientasi utama Ramadan. Maka, segala ikhtiar untuk membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci sejatinya merupakan bagian dari persiapan menuju derajat takwa tersebut.

Advertisement

Secara etimologis, istilah nyadran memiliki jejak panjang dalam sejarah kebudayaan.

Kata ini diyakini berasal dari bahasa Sanskerta sraddha yang berarti keyakinan.

Dalam perspektif Arab, terdapat kemiripan dengan kata shadrun yang berarti dada.

Mengisyaratkan proses ndada atau introspeksi diri. Yakni membersihkan batin sebelum memasuki Ramadan.

Dalam bahasa Jawa, istilah ini terkait dengan bulan Ruwah atau Syakban.

Secara terminologis, nyadran dipahami sebagai ritual penghormatan kepada arwah leluhur sekaligus doa memohon keselamatan.

Tradisi ini memperlihatkan sintesis unik antara pengaruh Islam dan kebudayaan Jawa yang telah mengalami proses akulturasi panjang sejak masa Hindu di Jawa.

Pada era Hindu, tradisi serupa dikenal dengan istilah Shraddha.

Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada roh leluhur dan ungkapan syukur atas kelimpahan air serta anugerah alam.

Persembahan berupa makanan, minuman, atau kesukaan almarhum disusun rapi di atas meja dan dihiasi bunga serta penerangan sebagai simbol penghormatan.

Seiring masuknya Islam melalui para pendakwah dari tanah Arab, bentuk-bentuk ritual tersebut mengalami transformasi makna.

Orientasinya tidak lagi pada persembahan, melainkan pada doa kepada Allah untuk para leluhur.

Terjadi pergeseran teologis dari penghormatan berbasis persembahan menuju penguatan tauhid melalui doa dan sedekah.

Proses akulturasi Islam dan budaya Jawa juga tampak dalam metode dakwah para wali. Sunan Kalijaga, misalnya, berdakwah menggunakan media wayang.

Ia memperkenalkan tokoh-tokoh Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang sarat pesan moral Islami.

Semar dimaknai sebagai simbol iman yang tertancap kuat seperti paku.

Gareng dihubungkan dengan makna kawan, mengajarkan pentingnya persaudaraan dan mengajak pada kebaikan.

Petruk dimaknai sebagai ajakan meninggalkan penyembahan selain kepada Allah.

Sementara Bagong melambangkan sikap keberanian melawan ketidakadilan.

Dakwah kultural semacam ini menunjukkan bahwa Islam hadir bukan untuk menghapus budaya, tetapi menyaring dan menanamkan nilai tauhid di dalamnya.

Nyadran yang dipraktikkan hari ini lebih menekankan ziarah kubur dan pembacaan doa bersama. Al-Qur’an mengingatkan, ’’Setiap yang bernyawa akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Kesadaran akan kefanaan hidup itulah yang mengantar manusia pada sikap rendah hati dan introspeksi diri.

Ziarah menjadi momentum muhasabah. Sudah sejauh mana kita menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia.

Di sisi lain, megengan menghadirkan suasana kebersamaan dan saling memaafkan.

Sebelum menahan lapar dan dahaga, masyarakat diajak menahan ego dan amarah.

Firman Allah Ta’ala menegaskan, ’’Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22).

Tradisi berkumpul, berdoa, dan berbagi makanan sederhana menjadi simbol kesiapan spiritual menyongsong bulan suci.

Pada akhirnya, Ramadan adalah perjalanan kembali kepada fitrah.

Tradisi nyadran dan megengan menjadi pintu awal perjalanan tersebut, mengajak manusia membersihkan hati, mempererat silaturahmi, serta memperkuat doa kepada Allah.

Dari tanah Jawa, pesan yang mengalun sederhana namun mendalam adalah sambutlah Ramadhan dengan jiwa yang jernih, iman yang teguh, dan kesadaran bahwa budaya dapat menjadi jembatan menuju ketakwaan.  (*)

Penulis:

Hafis Muaddab MPd, Guru SMKN 1 Jombang, Pengasuh Yayasan Pendidikan dan Sosial Najatud Daroini Gedangan, Mojowarno

Advertisement

Artikel Terkait

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Jika Alam Tidak Mengenal Sampah, Mengapa Kita Menciptakannya?

Manusia terbiasa dengan satu pola sederhana: mengambil, menggunakan, lalu membuang. Sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan segera kita beri nama “sampah”.

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Implementasi Ajaran Ki Hajar Dewantara Neng-Ning-Nung-Nang  untuk Kebangkitan Tamansiswa

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan gerakan kebudayaan dan perjuangan bangsa.

Tamu Kehormatan

Tamu Kehormatan

’’BARANG siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu orang asing di rumahnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer