JombangBanget.id - Di tengah kesibukan sebagai guru sekaligus pembina lomba di SMKN 3 Jombang, Dita Alfatana, S.Pd tak berhenti mengasah diri.
Baginya perempuan harus terus mengasah diri dan punya kemauan kuat untuk terus maju.
Setiap harinya, Dita membagi waktu dengan disiplin.
”Kalau di sekolah, saya fokus pada pekerjaan di sekolah. Kalau sudah di rumah, saya fokus dengan kegiatan rumah tangga,” ujarnya.
Meski begitu, aktivitasnya tidak bisa dibilang ringan. Hampir setiap hari ia pulang sore, bahkan sering kali baru tiba di rumah sekitar pukul setengah tujuh malam.
”Kalau ada event, kadang bisa sampai jam delapan atau sembilan malam,” tambahnya.
Selain menjadi pembina lomba, Dita juga dipercaya sebagai bendahara bengkel Teknologi Konstruksi Perumahan.
Tanggung jawab ganda itu ia jalani dengan penuh dedikasi.
Di sela kesibukannya, ia tetap aktif mengikuti kegiatan keagamaan dan pengajian di lingkungan tempat tinggalnya, layaknya ibu rumah tangga pada umumnya.
Namun, di balik kesibukannya, Dita menyimpan cerita tentang perjuangan pribadi.
Ia menjalani hubungan jarak jauh (LDR) dengan sang suami, Eko Prasstyo, S.Pd, yang bekerja di Kalimantan Timur di bidang pertambangan.
Baca Juga: Pertama Digelar, ANDLB Kemenag Libatkan Ratusan Guru PAI SD di Jombang
”Memang tidak mudah, tapi saya dan suami saling mendukung. Kuncinya komunikasi dan saling percaya,” katanya.
Prinsip hidup yang ia pegang menjadi sumber kekuatannya dalam menghadapi setiap tantangan.
”Saya orangnya tidak suka diremehkan. Tapi sekali diremehkan, itu justru jadi motivasi besar untuk saya terus berkembang,” tegasnya.
Meski saat ini Dita belum berencana melanjutkan studi ke jenjang S2, bukan berarti ia berhenti belajar. Ia memilih jalur upgrade diri melalui pendidikan informal.
”Saya masih punya rencana lain yang butuh waktu tenang. Tapi saya tetap belajar, mengikuti perkembangan kurikulum terbaru, dan sering berkomunikasi dengan alumni. Bahkan kami sering mengadakan acara di sekolah yang melibatkan alumni untuk berbagi ilmu baru sesuai bidangnya,” jelasnya.
Baginya, pendidikan tidak harus selalu formal.
”Belajar bisa dari mana saja, terutama dari pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Yang penting ada kemauan untuk terus maju,” tutur Dita penuh keyakinan. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz