Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Petani Kopi Wonosalam Jombang Semringah, Hasil Panen Tahun Ini Melimpah

A
Penulis: Anggi Fridianto❯
PANEN RAYA: Asmat, 60 warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Jombang, saat panen kopi, Minggu (6/7).
PANEN RAYA: Asmat, 60 warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Jombang, saat panen kopi, Minggu (6/7).

JombangBanget.id - Kopi di Kecamatan Wonosalam, Jombang tengah memasuki panen raya.


Advertisement

Petani yang tinggal di lereng kaki Gunung Anjasmoro bersemangat memanen kopi.

Selain hasil panen melimpah, harga jual juga tinggi.

Varietas jenis robusta jadi salah satu andalan petani.

Advertisement

Salah satunya dilakukan Asmat, 60, petani kopi asal Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam yang tampak sumringah.

Ya, dibandingkan tahun lalu, panen kopi di kebunnya kali ini lebih baik. Di kebun seluas 4 hektare itu, didominasi tanaman kopi jenis robusta.

Sejumlah pohon tampak dihiasi cherry kopi. Asmat pun bergegas memetik biji kopi yang sudah berwarna merah.

Advertisement

”Tahun kemarin buahnya tidak terlalu banyak, kira-kira hanya 1,5 ton, sedangkan panen tahun ini semua tanaman kopi yang saya tanam berbuah,” ujar dia.

Wilayah Desa Panglungan sejak dulu dikenal dengan penghasil kopi robusta.

Kopi yang sudah ada sejak zaman Belanda ini dikenal memiliki rasa pahit yang pekat dengan aroma harum mirip kacang.

Ia menyampaikan, di kebunnya seluas 4 haktare tersebut, ada juga jenis varietas kopi yang ditanam.

Masing-masing robusta dan excelsa. Namun, dari kedua jenis itu, robusta yang paling mendomininasi.

"Total lahan tanaman kopi yang saya miliki sekitar 4 hektare.  Kali ini saya baru panen di lahan 1 hektar saja dengan jenis kopi robusta, sedangkan lainnya akan saya panen hari besoknya,” papar dia.

Untuk menjaga produktivitas tanaman kopi, Asmat memanfaatkan penggunakan pupuk kompos.

Penggunaan pupuk kompos dinilai lebih bagus untuk menyuburkan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman.

Sesekali ia juga menggunakan pupuk kimia untuk mencegah hama.

”Tanaman juga memerlukan perawatan dengan melakukan pemupukan menggunakan pupuk kompos,” ungkapnya.

Untuk pemasaran, Asmat mengaku tak pernah bingung menjual kopi. Sebab, banyak tengkulak siap mengambil.

”Harga kopi gelondong yang baru dipetik dari pohonnya dihargai oleh para pengepul seharga Rp 12.500 per kilogram. Jadi keuntungan saya dari buah kopi yang saya jual, 1 hektar lahan kopi menghasilkan 3 ton, tinggal dikalikan Rp 12.500,” pungkasnya. (ang/naz)

Advertisement

Artikel Terkait

Musim Durian Usai, Pizza Durian Wonosalam Jombang Tetap Diproduksi untuk Wisatawan

Musim Durian Usai, Pizza Durian Wonosalam Jombang Tetap Diproduksi untuk Wisatawan

Berakhirnya musim durian tidak membuat produksi pizza durian di Wonosalam, Jombang ikut berhenti. Pelaku usaha telah menyiapkan stok daging durian sejak panen raya agar olahan khas tersebut tetap tersedia sepanjang

Pizza Durian Wonosalam Jombang Jadi Buruan Wisatawan, Dibuat dari 100 Persen Durian Lokal

Pizza Durian Wonosalam Jombang Jadi Buruan Wisatawan, Dibuat dari 100 Persen Durian Lokal

Kreativitas mengolah hasil bumi terus bermunculan di Kecamatan Wonosalam, Jombang. Jika selama ini durian lebih sering dinikmati langsung, kini buah khas pegunungan lereng Anjasmoro itu hadir dalam bentuk pizza durian.

Wonosalam Sumbang 60 Persen Produksi Cengkeh Jombang, Capai 234,9 Ton per Tahun

Wonosalam Sumbang 60 Persen Produksi Cengkeh Jombang, Capai 234,9 Ton per Tahun

Kecamatan Wonosalam masih menjadi sentra utama produksi cengkeh di Kabupaten Jombang. Dari total produksi cengkeh kering sebesar 363 ton per tahun, wilayah pegunungan tersebut menyumbang sekitar 234,9 ton atau lebih

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer