JombangBanget.id - Dwi Aniyatul Lu’lu’il Maknun, kepala Tata Usaha (KTU) MTsN 16 Jombang membangun kemampuan public speaking tanpa pendidikan formal khusus.
Sejak remaja, ia belajar dari buku, mengamati gaya bicara tokoh, dan berlatih di depan cermin hingga kini menjadi trainer.
Bakat berbicara di depan publik mulai terlihat ketika duduk di kelas V MI. Saat itu, ia sudah mengikuti berbagai lomba pidato dan mulai terbiasa tampil di hadapan banyak orang.
Baca Juga: Profil Luluil Maknun, Dari Guru hingga KTU Madrasah di Jombang
Bakat tersebut semakin terasah ketika aktif di PR IPPNU Tambakrejo dan PAC IPPNU Jombang Kota. Berbagai kegiatan organisasi membuatnya kerap dipercaya menjadi MC, dirigen, maupun tampil dalam kegiatan lainnya.
Dari sana, rasa percaya dirinya tumbuh. Ia pun terus mengasah kemampuan berbicara secara mandiri. Saat bersekolah di MTs Mu’allimat, Luluil Maknun rajin membeli dan membaca buku tentang public speaking.
Di tengah keterbatasan akses informasi kala itu, buku menjadi salah satu sumber belajarnya.
Ada pula sosok yang menjadi inspirasinya, yakni Kiai Zainuddin MZ. Gaya berbicara dai tersebut dipelajari, kemudian disesuaikan dengan karakter Luluil Maknun sendiri.
Baca Juga: Enam Raperda Prioritas 2027 Tengah Dipetakan Bapemperda DPRD Jombang, Berikut Daftarnya
”Saya dulu waktu MI ngefans sama Kiai Zainuddin MZ. Saya sampai membeli buku kecilnya. Saya baca, lalu kalimat yang tidak sesuai saya ganti dan saya sesuaikan dengan kalimat saya,” ungkap istri Ali Mashari, S.Ag. tersebut.
Latihannya pun sederhana. Luluil berdiri di depan cermin untuk mengamati ekspresi wajah, senyum, mimik, hingga intonasi suara.
Baginya, tampil di depan publik bukan hanya soal materi yang bagus. Penampilan, ekspresi, suara, dan kesiapan juga menentukan keberhasilan seorang pembicara.
Kini, kemampuan yang ditempa sejak kecil itu membawanya aktif menjadi trainer public speaking di berbagai kegiatan. Ia pernah memberikan pelatihan kepada Muslimat di Tembelang, organisasi tingkat kecamatan, desa, hingga Fatayat dan lingkungan pesantren.
Pengalaman dan prestasinya pun cukup beragam. Di antaranya meraih juara pertama cipta baca puisi tingkat Kabupaten Jombang pada 2024.
Ia juga pernah meraih prestasi dalam lomba dirigen/pembirama pada 2022 serta menjadi bagian dari tim yang mengikuti lomba qasidah rebana tingkat Kanwil dan meraih juara favorit.
Baca Juga: Dua Bulan Tanpa Progres, Pengamat Desak Bupati Jombang Copot Permanen Hartono dari Kepala Bapperida
Namun, bagi Luluil, public speaking bukan sekadar kemampuan untuk memenangkan perlombaan.
Lebih dari itu, kemampuan berbicara di depan publik menurutnya bisa menjadi bekal untuk membangun kepercayaan diri.
Kunci pertama, kata dia, adalah menerima dan mensyukuri apa yang diberikan Allah SWT. Termasuk suara dan penampilan yang dimiliki.
Suara pun harus diterima sekaligus dilatih. Ia mengajarkan pentingnya keberanian menggunakan suara sendiri dengan baik, termasuk melalui latihan artikulasi dan intonasi.
Selain menjadi KTU MTsN 16 Jombang, Luluil juga aktif dalam sejumlah organisasi. Di antaranya pengurus DWP Kantor Kemenag Jombang bidang sosial budaya, agen moderasi beragama Kantor Kemenag Jombang, serta pengurus PC Fatayat NU bidang dakwah.
Baca Juga: Teken MoU, RSUD Jombang Perkuat Kerja Sama Pelayanan Kesehatan dengan Lapas
Menariknya, kemampuan berbicara itu mulai menurun kepada anak pertamanya, Mohammad Fithr Alfin Niam, S.Pd. Putra sulung Luluil kini mengikuti jejak ibunya sebagai MC, pembicara, hingga trainer public speaking.
”Yang pertama itu persis seperti saya. Mulai MC, pidato, kemudian trainer speaking,” katanya.
Bakat serupa juga mulai terlihat pada Lajna Manzila Atqia serta putra bungsunya, Rajul Asyiqal Mustava. Meski demikian, Luluil tidak pernah memaksakan ketiga anaknya mengikuti jalur yang sama.
Baca Juga: Meski Sudah Disetujui, Pembangunan IJD Ruas Mojoagung-Mojoduwur Jombang Masih Harus Tunggu Pusat
Baginya, setiap anak memiliki bakat sekaligus jalan hidup masing-masing.
”Anakku bukan anakku. Dia putra-putri kehidupan yang memiliki jalannya sendiri. Bisa saja mereka mirip diriku, tetapi saya tidak pernah menuntut mereka jadi seperti seperti saya,” ujarnya.
Prinsip itulah yang membuat Luluil memberi ruang kepada anak-anaknya untuk berkembang sesuai minat masing-masing. Ia memilih menjadi pendamping yang siap membantu ketika mereka membutuhkan. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz