Profil Luluil Maknun, Dari Guru hingga KTU Madrasah di Jombang

Wenny Rosalina • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 16:25 WIB
Dwi Aniyatul Lu’lu’il Maknun, S.Kom, kepala Tata Usaha (KTU) MTsN 16 Jombang. (Wenny Rosalina/Radar Jombang)
Dwi Aniyatul Lu’lu’il Maknun, S.Kom, kepala Tata Usaha (KTU) MTsN 16 Jombang. (Wenny Rosalina/Radar Jombang)

JombangBanget.id – Karier Dwi Aniyatul Lu’lu’il Maknun SKom di dunia pendidikan melewati sejumlah fase.

Berawal dari mengajar di pesantren, ia kemudian menjadi guru, tenaga kependidikan, hingga dipercaya sebagai KTU MTsN 16 Jombang.

Meski kini dipercaya sebagai kepala Tata Usaha (KTU) MTsN 16 Jombang, perempuan kelahiran Jombang, 19 Desember 1978, itu tetap menyempatkan diri mengajar dan berbagi ilmu kepada generasi muda.

Baca Juga: Enam Raperda Prioritas 2027 Tengah Dipetakan Bapemperda DPRD Jombang, Berikut Daftarnya

Jalan panjang Luluil Maknun di dunia pendidikan bermula dari bangku Mu’allimat Bahrul Ulum. Sejak awal, ia memang dipersiapkan menjadi pendidik.

Setelah menempuh pendidikan dasar di MI Bahrul Ulum, ia melanjutkan ke MTs dan MA Mu’allimat Bahrul Ulum.

Bagi Luluil, menjadi guru saat itu seperti sebuah kelanjutan alami setelah lulus Mu’allimat. Lembaga tersebut memang mencetak alumninya untuk terjun ke dunia pendidikan.

”Mu’allimat itu memang dicetak untuk menjadi guru. Dulu ibaratnya setara PGA. Jadi setelah lulus, biasanya ya mengajar,” tuturnya.

Baca Juga: Dua Bulan Tanpa Progres, Pengamat Desak Bupati Jombang Copot Permanen Hartono dari Kepala Bapperida

Langkah pertamanya sebagai pengajar dilakukan di Pondok Pesantren At-Taqwa, Cabean, Pasuruan. Selama sekitar enam bulan, ia menerapkan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Mu’allimat.

Setelah itu, ia pindah ke Jakarta. Selama sekitar dua tahun, Luluk mengajar di Pondok Pesantren Al-Mahbubiyah, Jakarta Selatan. Setelah berumah tangga, ia kembali ke Jombang. Kariernya berlanjut di MTsN 3 Jombang.

Awalnya sebagai pegawai, ia kemudian menjadi guru hingga akhirnya diangkat sebagai PNS.

Namun, perjalanan sebagai guru ternyata harus berhenti di tengah jalan. Persoalan linieritas pendidikan dan jabatan membuat Luluk beralih fungsi menjadi tenaga kependidikan pada 2012.

”Saya karena waktu itu 2A, S1 PAI saya tidak diakui karena SK-nya lebih dulu daripada S1. Akhirnya 2012 saya alih fungsi menjadi pegawai,” jelasnya.

Perubahan tugas itu justru membuatnya kembali ke bangku kuliah. Jika sebelumnya memiliki latar belakang pendidikan agama Islam, kali ini ia memilih bidang nonkependidikan yang sesuai dengan tugasnya sebagai tenaga kependidikan.

Ia mengambil S1 Fakultas Teknologi Informasi (FTI) program studi Sistem Informasi di Unwaha. Pendidikan tersebut dimulai pada 2015 dan diselesaikan pada 2019.

Baca Juga: Meski Sudah Disetujui, Pembangunan IJD Ruas Mojoagung-Mojoduwur Jombang Masih Harus Tunggu Pusat

”Kalau pegawai itu harus nonpendidikan, sehingga saya kuliah lagi. Selain supaya linier, ya sekalian mendapat tambahan ilmu,” katanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan, pengabdiannya sebagai tenaga kependidikan berlanjut. Pada 2018, ia mutasi ke MAN 3 Jombang. Enam tahun kemudian, tepatnya 2024, ia mendapat promosi jabatan dan dipercaya menjadi KTU MTsN 16 Jombang.

Madrasah tersebut meraih predikat Adiwiyata Mandiri pada tahun yang sama.
Meski tugasnya telah berubah, dunia mengajar rupanya tak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Pada akhir pekan, Luluil Maknun masih mengajar bahasa Arab di MTs Fattah Hasyim. Aktivitas itu berlangsung pada pagi hari, sekitar pukul 07.00 hingga 09.30.

”Daripada hilang ilmunya,” ujarnya.

Baca Juga: Teken MoU, RSUD Jombang Perkuat Kerja Sama Pelayanan Kesehatan dengan Lapas

Aktivitas berbagi ilmunya juga tidak berhenti di ruang kelas. Luluil masih aktif memberikan pelatihan public speaking, menjadi juri, hingga mendampingi berbagai kegiatan di lingkungan pondok pesantren.

Rumahnya yang berada di kawasan Tambakberas, Tambakrejo, Jombang, membuatnya cukup sering mendapat undangan untuk terlibat dalam kegiatan pesantren.

Bagi Luluil, menjadi pendidik tidak selalu harus ditandai dengan jabatan sebagai guru. Selama ilmu masih bisa dibagikan, ia memilih untuk terus mengajar dan mendampingi generasi muda.

”Kalau di pondok biasanya saya mengajar pidato, Dai, MSQ, dan menjadi juri, seperti itu kegiatannya,” ungkap penerjemah pego ghoyah wattaqrib tersebut. (wen/naz)

Editor : Ainul Hafidz
dwi aniyatul luluil maknun ktu mtsn 16 profil Jombang