JombangBanget.id – Perjalanan Hindun MPd menekuni dunia pendidikan tidak dimulai dari ruang kepala madrasah.
Sebelum dipercaya memimpin MTsN 8 Jombang, perempuan kelahiran Pandaan, Pasuruan, itu pernah mengajar sambil berdagang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
Dari pengalaman itu, Hindun kemudian memilih fokus mengabdi di dunia pendidikan hingga akhirnya dipercaya menjadi kepala madrasah.
Baca Juga: Pensiunan PNS Pemkab Jombang Menangis, Tabungan Puluhan Tahun di KPRI Sejahtera Tak Bisa Dicairkan
Perempuan kelahiran 30 Oktober 1972, ini mengawali pendidikan di MI Ustadzul Mustaqim Pandaan.
Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Pandaan dan MA Ma’arif Pandaan.
Setelah itu, Hindun melanjutkan pendidikan S1 dan S2 di Unhasy Tebuireng mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.
Sebelum menyelesaikan pendidikan S1, ia sudah mulai mengajar di MTs Nurul Iman Dempok.
Baca Juga: IJD 2026, Hanya Mojoagung–Mojoduwur Lolos, Empat Ruas di Jombang Gagal
Saat itu, Hindun sempat menjalankan dua aktivitas sekaligus.
Selain mengajar, ia juga menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan materi. Baginya, mengajar merupakan bagian dari pengabdian dan pengamalan ilmu.
’’Niat saya memgajar murni untuk mengamalkan ilmu saja, untuk tambahan ekonomi saya berdagang,’’ jelasnya.
Setelah menikah, sang suami, Salim SAg, meminta Hindun memilih salah satu bidang agar bisa dijalani secara maksimal.
Hindun pun memilih pendidikan setelah terlebih dahulu memohon petunjuk kepada Allah.
’’Prinsip saya menjalankan tugas sebaik mungkin, sesuai dengan amanah yang diberikan dan sesuai dengan kemampuan saya,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Demi Kuliah di Al-Azhar Mesir, Pemuda Jombang Ini Lepas Beasiswa Maroko
Keputusan tersebut kemudian membawa Hindun semakin mantap menekuni dunia pendidikan. Ia diangkat sebagai aparatur sipil negara (ASN) dan ditempatkan di MTsN 9 Jombang.
Selama sekitar 15 tahun, ia mengabdi di madrasah tersebut. Sebelum akhirnya mendapatkan amanah sebagai kepala MTsN 8 Jombang.
Dalam memimpin madrasah, Hindun tidak ingin menjadi pemimpin yang hanya memberikan instruksi. Ia justru berupaya membangun komunikasi dan memberi ruang kepada guru untuk berinovasi.
Menurutnya, kreativitas guru memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan peserta didik.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU, YANMU Serahkan Dua Ambulans ke Pesantren Tambakberas
’’Yang paling penting, saya harus memberikan contoh dulu. Ketika saya tidak bisa memberikan contoh, saya juga tidak enak kalau meminta bapak ibu guru,’’ tuturnya.
Salah satu perubahan yang ia dorong adalah penguatan pembiasaan keagamaan sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.
Jika sebelumnya pelaksanaan salat duha dan duhur dilakukan secara bergantian karena keterbatasan tempat, Hindun bersama jajaran guru mencari solusi agar kegiatan tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama.
Masjid madrasah kemudian diperluas untuk menyesuaikan jumlah peserta didik yang mencapai lebih dari 400 siswa.
Upaya tersebut perlahan menjadi budaya. Bahkan, sekitar satu setengah tahun terakhir pembiasaan tersebut telah berjalan tanpa harus terus-menerus diperintah.
’’Sekarang ini tanpa saya harus memerintahkan, itu sudah menjadi budaya, sudah terbiasa. Anak-anak pun sudah menjadi budaya bahwa sebelum 10 menit pembiasaan dilakukan, mereka sudah berada di madrasah,’’ terangnya.
Baca Juga: Tafsir Aktual: Al-Fatihah 11, Muktamar (2)
Hindun juga mendorong pengembangan potensi akademik dan keagamaan siswa. Salah satunya melalui program kelas tahfid dan kelas bahasa.
Program tahfid yang mulai dikembangkan mendapat respons positif.
Jumlah peminatnya meningkat dan sebagian peserta didik bahkan mampu melampaui target hafalan yang ditetapkan.
Bagi Hindun, capaian tersebut tidak terlepas dari konsistensi guru pembimbing dan dukungan seluruh warga madrasah.
Baca Juga: Student Journalism: Memperbaiki Diri
Ia meyakini, ikhtiar pendidikan harus berjalan beriringan dengan doa.
’’Kita hanya sekadar ikhtiar. Yang penting kita ikhtiar maksimal, Allah tidak akan menyia-nyiakan segala bentuk upaya kita,’’ ujarnya.
Bagi Hindun, menjadi pemimpin berarti merangkul, memberikan contoh, sekaligus membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang.
Sebab, keberhasilan madrasah bukanlah hasil kerja seorang kepala madrasah saja.
Melainkan buah dari kebersamaan seluruh guru, tenaga kependidikan, peserta didik dan orang tua. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz