JombangBanget.id – Mimpi untuk menimba ilmu di Negeri Para Ulama mengantarkan Maulaya Naila Najma, asal Denanyar, Jombang, menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Mesir.
Mahasiswi kelahiran Jombang 14 Februari 2006 ini menjalani studi S1 Jurusan Ushuluddin sejak 2024.
’’Saya bercita-cita menjadi guru atau dosen,’’ ucap Maya, sapaan akrabnya.
Sebelum berangkat ke Mesir, putri pasangan Moh Khoiril Anam dan Eny Rosyidah ini menempuh pendidikan di MI Bahrul Ulum Tambakberas.
Baca Juga: 20 Karateka Jombang Raih 13 Medali di Piala Kapolri, Firman Adi Nugraha Siap Bela Indonesia
Kemudian melanjutkan ke MTs Perguruan Muallimat Cukir Jombang dan MA Perguruan Muallimat Cukir. Saat ini ia tinggal di kawasan Darbul Ahmar, Kairo.
Keinginan kuliah di Mesir berawal dari cerita sang ayah yang pernah mengikuti dauroh selama dua bulan di negeri tersebut.
Sejak kecil, Maya juga mengaku menyukai lagu-lagu bernuansa Arab sehingga semakin tertarik mengenal budaya dan bahasa Arab secara langsung.
Jalan menuju Mesir tidak langsung mulus. Ayahnya sempat mengingatkan, kitab-kitab yang dipelajari di Mesir juga dapat ditemukan di Indonesia.
Kekhawatiran terbesar sang ayah justru agar putrinya tidak kehilangan fokus belajar ketika berada jauh dari keluarga.
’’Abi sebenarnya bukan melarang, hanya mengingatkan. Saat kelas dua aliyah, umi kembali bertanya ingin kuliah di mana. Saya menjawab ingin ke Mesir. Dari situlah saya mendapat dukungan penuh dari keluarga untuk berangkat,’’ tuturnya.
Berbeda dengan anggapan banyak orang, Maya mengaku hingga kini masih menempuh pendidikan secara mandiri dan belum memperoleh beasiswa.
Ia berharap dalam waktu dekat dapat memperoleh kesempatan tersebut.
’’Kebetulan untuk saat ini saya belum ditakdirkan mendapatkan beasiswa, dan semoga tahun ini segera mendapatkannya,’’ harapnya.
Baca Juga: Kirab Budaya Sambut Bulan Suro di Desa Kesamben Jombang, Arak Hasil Bumi hingga Wayang Kulit
Kesibukannya di Mesir juga tidak hanya di ruang kuliah. Selain mengikuti perkuliahan di Fakultas Ushuluddin, ia rutin mengaji dan menyetorkan hafalan kepada syekh.
Ia juga aktif di lembaga Jamiyatul Qurra wal Huffadz (JQH) NU Mesir. Serta terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan.
Termasuk kegiatan kekeluargaan mahasiswa Jawa Timur dan PCI NU Mesir.
Menurutnya, tantangan terbesar belajar di Al Azhar bukan hanya kemampuan berbahasa Arab. Tetapi juga metode pembelajaran yang menuntut mahasiswa menghafal materi dalam jumlah besar.
’’Kalau di Indonesia kita belajar menggunakan bahasa sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami. Di Al Azhar tantangan terbesarnya adalah bahasa dan sistem belajar yang lebih banyak menghafal materi yang diujikan,’’ ujarnya.
Ia juga merasakan tantangan hidup sehari-hari di Mesir, terutama dalam urusan administrasi yang masih banyak dilakukan secara manual.
’’Kalau mengurus administrasi kuliah maupun rumah sakit semuanya masih manual, jadi membutuhkan kesabaran dan usaha lebih,’’ katanya.
Pengalaman lain yang membuatnya sempat mengalami culture shock adalah kondisi lalu lintas di Kairo.
’’Kendaraan di sini melaju sangat cepat dan hampir tidak ada yang mau mengalah. Selain itu, anjing liar berkeliaran di jalan sudah seperti kucing di Indonesia,’’ ungkapnya.
Meski demikian, semua tantangan tersebut terbayar dengan pengalaman yang menurutnya sangat berharga. Yakni dapat bertalaqqi, belajar langsung, dan bermuamalah bersama para masyayikh Al Azhar.
Bagi pelajar Indonesia yang ingin mengikuti jejaknya, Maya berpesan agar mempersiapkan kemampuan bahasa Arab sejak dini.
Menurutnya, calon mahasiswa perlu menguasai lima keterampilan dasar bahasa Arab sekaligus memperdalam ilmu-ilmu alat agar lebih siap menghadapi perkuliahan di Mesir.
’’Ilmu alat itu ilmu dasar bahasa Arab, nahwu, shorof, i’rob, balaghoh,’’ jelasnya.
Dengan hobi seni musik islami dan cita-cita menjadi pendidik, Maya berharap ilmu yang diperolehnya di Mesir kelak dapat dibawa pulang untuk memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya Kabupaten Jombang. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz