JombangBanget.id - Deretan penghargaan internasional yang diraih Zainul Mujib MPd membuat banyak orang menganggapnya sebagai salah satu kaligrafer sukses asal Jombang.
Namun bagi guru MAN 4 Jombang itu, ukuran keberhasilan tidak ditentukan oleh jumlah trofi maupun sertifikat yang dimiliki.
Baginya, keberhasilan terbesar adalah ketika ilmu yang dipelajarinya dapat diwariskan dan berkembang di tangan generasi berikutnya.
Prinsip itulah yang melatarbelakangi berdirinya Kitabah Academy, sebuah kelas kaligrafi daring yang dirintisnya beberapa tahun lalu.
’’Kalau ditanya pencapaian paling berkesan, bukan lomba atau penghargaan. Yang paling membahagiakan adalah melihat murid-murid yang belajar dari nol kemudian bisa membuka kelas sendiri dan mengajarkan lagi kepada orang lain,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Profil Zainal Mujib, Guru MAN 4 Jombang yang Menjadi Kaligrafer Internasional
Kitabah Academy didirikan 2021 dengan fokus pada pembelajaran tahsin kitabah atau perbaikan kualitas tulisan Arab.
Melalui platform tersebut, Zainul berusaha menyederhanakan metode pembelajaran kaligrafi agar lebih mudah dipahami masyarakat umum.
’’@kitabah_academy, sebuah kelas kaligrafi online melalui platform instagram,’’ jelasnya.
Hingga kini, lebih dari 300 peserta telah menyelesaikan program pembelajaran dan memperoleh syahadah.
Banyak di antaranya kemudian menjadi pengajar kaligrafi di lingkungan pesantren maupun komunitas masing-masing.
Menurut Zainul, selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap kaligrafi sebagai bidang yang hanya bisa dikuasai oleh orang-orang berbakat.
Padahal berdasarkan pengalaman pribadinya, kemampuan menulis indah bukan semata-mata persoalan bakat, melainkan metode belajar yang benar.
’’Kebanyakan orang mengatakan dirinya tidak berbakat. Padahal sebenarnya belum menemukan cara belajar yang tepat. Kalau metodenya benar, semua orang bisa belajar kaligrafi,’’ jelasnya.
Pemikiran tersebut lahir dari perjalanan panjang yang ia jalani sejak menjadi santri di Denanyar.
Saat pertama kali belajar, ia juga tidak memiliki kemampuan khusus. Ia hanya senang meniru tulisan-tulisan kaligrafi yang ditemuinya.
Baca Juga: Mahasiswa Geruduk DPRD Jombang, Tuntut Audit Kerentanan Ekonomi
Namun setelah mendapatkan bimbingan yang sistematis dari para guru di SAKAL, kemampuannya berkembang pesat hingga mampu bersaing dalam berbagai kompetisi nasional maupun internasional.
Kini, selain mengajar di MAN 4 Jombang sebagai guru Seni Budaya dan Bahasa Arab, Zainul juga aktif menjadi trainer kaligrafi daring.
Pembina ekstrakurikuler di sejumlah pesantren. Konsultan iluminasi mushaf Alquran serta narasumber berbagai seminar dan workshop.
Pada 2025, ia juga resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Di sekolah, materi Seni Budaya yang diampunya banyak diarahkan pada pembelajaran kaligrafi sehingga siswa tidak hanya memahami teori seni, tetapi juga mampu menghasilkan karya.
Selain menekuni seni khat, Zainul juga mendalami seni iluminasi atau ornamen yang biasa menghiasi mushaf Alquran.
Bidang tersebut bahkan membawanya menjadi konsultan iluminasi untuk sejumlah proyek mushaf.
Di tengah berbagai aktivitasnya, Zainul tetap memegang satu cita-cita besar, yakni membangun peradaban literasi dan kaligrafi yang lebih luas melalui pendidikan.
Ia berharap suatu saat masyarakat tidak lagi menganggap kaligrafi sebagai keterampilan eksklusif yang hanya dapat dipelajari kalangan tertentu.
Baca Juga: Pelayanan Warga Makin Cepat, 9 RW Kelurahan Jombatan Jombang Kini Punya Motor Roda Tiga Operasional
’’Saya ingin membangun paradigma baru bahwa belajar kaligrafi itu mudah. Tidak harus punya bakat khusus. Dengan metode yang tepat, siapa pun bisa belajar dan menghasilkan karya yang baik,’’ paparnya.
Bagi Zainul, warisan terbesar seorang guru bukanlah prestasi yang terpajang di dinding, melainkan ilmu yang terus hidup melalui murid-muridnya.
Karena itu, di tengah berbagai penghargaan internasional yang telah diraih, ia memilih tetap berdiri di ruang-ruang belajar, mendampingi para pemula yang ingin mengenal dunia kaligrafi dari awal. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz