JombangBanget.id – Semangat meraih masa depan yang lebih baik mengantarkan Dwi Khoiruni’mah, menembus ketatnya seleksi kerja ke Jepang.
Alumnus SMK Budi Utomo Jombang itu kini bekerja di sektor pengolahan makanan sashimi di Prefektur Nagasaki, Jepang.
Perjalanan warga Gadingmangu Kecamatan Perak menuju Negeri Sakura tidaklah mudah.
Perempuan kelahiran 19 Juni 2005 ini harus melewati serangkaian tes fisik, wawancara, hingga beberapa kali kegagalan sebelum akhirnya berhasil memperoleh penempatan kerja.
Baca Juga: Microsleep, Honda City Tabrak Truk Gandeng di Tol Jombang-Mojokerto, Satu Orang Tewas
’’Setelah lulus SMK pada 2023, saya sempat merantau ke Solo,’’ ucapnya.
Selama 2024 hingga 2025 ia mengajar mengaji dan bekerja di sebuah usaha kuliner. Kemudian mengikuti program pelatihan kerja ke Jepang melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
Banyak tahapan seleksi yang harus dijalani. Mulai tes fisik seperti push-up dan sit-up. Wawancara dengan perusahaan Jepang, hingga seleksi keterampilan.
Bahkan dua kali kesempatan kerja yang diincarnya harus kandas. Hingga akhirnya diterima di sektor pengolahan makanan sashimi di Nagasaki.
’’Saya pernah gagal saat wawancara untuk penempatan di Miyazaki dan Aichi. Alhamdulillah pada kesempatan ketiga saya lolos untuk pekerjaan pengolahan makanan sashimi di Nagasaki,’’ katanya.
Menurut Dwi, tantangan terbesar bekerja di Jepang bukan hanya kemampuan fisik. Melainkan kekuatan mental dan kedisiplinan.
Sebagai pekerja asing, dia harus siap menghadapi budaya kerja yang sangat menuntut ketepatan dan tanggung jawab.
’’Di Jepang itu yang paling penting mental. Orang Jepang sangat disiplin. Kalau kita bekerja lambat atau tidak sesuai standar, mereka akan langsung menegur. Jadi jangan mudah baper atau menyerah,’’ tuturnya.
Baca Juga: Punya Luas 10 Hektare, Embung Grojogan Plandaan Jombang Disiapkan Jadi Wisata Favorit
Kedisiplinan masyarakat Jepang, terlihat bahkan dari hal-hal sederhana seperti pengelolaan sampah yang harus dipilah sesuai jenisnya.
Budaya menghargai ketenangan dan keteraturan juga sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.
’’Orang Jepang menghormati warga asing yang sopan dan menghargai aturan. Mereka senang kalau kita menyapa dan berperilaku baik,’’ ungkapnya.
Saat ini Dwi bekerja di bagian pengolahan makanan sashimi yang dipasarkan melalui jaringan supermarket.
Meski telah hampir dua tahun berada di Jepang, ia mengaku masih berstatus peserta program magang teknis atau jisshusei yang memiliki masa kontrak tiga tahun dengan evaluasi berkala.
Ke depan, ia berharap dapat meningkatkan statusnya menjadi pekerja Tokutei Ginou (TG) yang memberikan kesempatan bekerja lebih lama. Serta memiliki jenjang karier yang lebih baik di Jepang.
Bagi generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya, Dwi berpesan agar mempersiapkan kemampuan bahasa Jepang sejak awal.
Menurutnya, penguasaan bahasa menjadi kunci untuk beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari maupun lingkungan kerja.
’’Bahasa Jepang sangat penting karena di sini kita harus mandiri. Naik kereta, berbelanja, mengurus kebutuhan sehari-hari, semuanya membutuhkan kemampuan berbahasa,’’ ungkapnya.
Baca Juga: PHK PT SGS Jadi Sorotan DPRD Jombang, Hak Karyawan Tak Boleh Diabaikan
Meski harus hidup jauh dari keluarga, Dwi mengaku betah tinggal di Jepang. Ia menilai peluang kerja yang tersedia lebih terbuka dibandingkan di Indonesia, terutama bagi lulusan sekolah menengah.
’’Alhamdulillah saya kerasan. Memang sedih jauh dari keluarga, tetapi kesempatan kerja di sini lebih besar. Saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman dan penghasilan yang lebih baik,’’ ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz