JombangBanget.id - Di balik rindangnya lingkungan SMAN 3 Jombang, ada sosok yang konsisten menggerakkan kepedulian terhadap alam. Dia adalah Dra Wenny Wardhani, Gr. Bukan hanya guru Biologi, Wenny juga motor berbagai program lingkungan hidup di sekolah.
Perempuan kelahiran Jombang, 28 Desember 1969 itu punya perjalanan karier yang tak biasa. Sebelum menjadi guru SMA, ia lebih dulu berkarier sebagai dosen selama 14 tahun. Wenny merupakan putri asli Jombang.
Ia menempuh pendidikan di SDN Kepanjen 2, SMPN 1 Jombang, hingga SMAN 2 Jombang. Ketertarikannya pada sains membawanya kuliah di FMIPA Universitas Airlangga Surabaya, yang kini menjadi Fakultas Sains dan Teknologi (FST). ”Saya bukan orang asli pendidikan, yang saya pelajari ilmu Biologi murni,” kata Wenny.
Meski begitu, dunia pendidikan justru menjadi jalannya. Setelah lulus 1993, ia mulai mengajar pada 1994 sebagai dosen Biologi Kedokteran dan Genetika Medis di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Selama belasan tahun, ia menjalani rutinitas pulang-pergi Jombang–Surabaya. Hingga akhirnya, pada 2008 ia memilih berhenti. ”Waktu itu saya sering PP Jombang-Surabaya. Akhirnya suami dan keluarga meminta saya istirahat saja dan lebih fokus di Jombang,” ujarnya.
Keputusan itu justru menjadi titik balik. Pada 2010, Wenny mulai mengajar sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di SMAN 3 Jombang dan SMA Transains Tebuireng.
Baca Juga: Profil Aribawa Tjahjadi, dari Sopir dan Honorer Kini Jabat Kepala Bidang Angkutan Dishub Jombang
Sejak itu, ia aktif mengembangkan pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Saat mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) masih ada, ia terlibat langsung. Ketika PLH dihapus, nilai-nilainya tetap ia tanamkan dalam pelajaran Biologi dan kegiatan siswa. ”SMAN 3 Jombang ini didukung dengan lahan yang luas, dan lingkungan yang memang sudah rindang sejak dulu,” jelasnya.
Kini, ia membina Green Team atau Kader Peduli Lingkungan SMAN 3 Jombang. Ia juga aktif mendampingi Olimpiade Biologi dan Olimpiade Penelitian Sains Indonesia. Bekal keilmuannya memang kuat di bidang lingkungan.
Saat kuliah, ia mengambil peminatan lingkungan. ”Dasar lingkungan saya memang kuat sejak kuliah. Jadi ketika masuk ke sekolah, saya merasa ilmu yang saya miliki bisa diterapkan untuk anak-anak,” katanya.
Di bawah bimbingannya, berbagai program lingkungan berjalan aktif. Mulai dari pembuatan kompos metode juglangan, praktik langsung pengolahan limbah organik, hingga pertanian sederhana.
Siswa tidak hanya belajar teori. Mereka mencangkul, membuat lubang kompos, mengisi bahan organik, hingga memanen hasilnya sendiri. Bahkan, siswa yang tidak mengikuti prosedur diberi tugas praktik pertanian organik.
Tak berhenti di situ, Wenny juga mendorong kreativitas siswa lewat daur ulang sampah. Bersama siswa, ia membuat kostum dari limbah seperti karung bekas, kemasan saset, dan botol plastik.
Karya tersebut bahkan pernah meraih juara pertama lomba desain daur ulang di ITS Surabaya. Prestasi itu istimewa karena harus bersaing dengan peserta dari jurusan desain dan tata busana.
Baca Juga: Profil I Nyoman Swardana: Mantan Inspektur, Kini Ketua REI Jombang-Mojokerto
”Anak-anak mendesain sendiri. Kami bekerja sama dengan pengrajin untuk mewujudkan desainnya. Hasilnya pernah juara satu di ITS,” kenangnya.
Pada 2023, Wenny resmi diangkat sebagai PPPK dan memilih fokus penuh di SMAN 3 Jombang. ”Karena memaksimalkan diri saya di SMAN 3 Jombang,” jelasnya.
Kini, ia punya mimpi menghidupkan kembali Olimpiade Ekologi yang pernah digelar di sekolah tersebut. Menurutnya, ajang itu penting untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus prestasi siswa. ”Kalau bisa berjalan rutin, sertifikatnya bisa dimanfaatkan anak-anak untuk jalur prestasi ke perguruan tinggi. Saya berharap suatu saat bisa hidup lagi,” tuturnya. (wen/naz)
Editor : Achmad RW