JombangBanget.id - Berangkat dari kegelisahannya melihat rendahnya kesadaran gizi siswa, Elvi Era Fitri, guru Biologi SMA Budi Utomo Jombang, berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi yang kini tidak hanya dimanfaatkan di sekolahnya.
Tetapi juga mulai digunakan guru di berbagai daerah di Jawa Timur.
Inovasi dengan judul NUTRIQUEST: Immersive Biosimulation Berbasis STEAM melalui Canva Code untuk Penguatan Literasi Gizi Remaja dan Optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Berbasis Pondok, berhasil membawanya masuk 25 besar East Java Innovative Education Summit (EJIES) 2026. Ini kompetisi bergengsi kolaborasi Jawa Pos bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Perempuan kelahiran 24 Maret 1992 ini telah mengabdikan diri sebagai guru Biologi sejak 2016.
Baca Juga: Warga Tagih Realisasi Jembatan Kudubanjar, Dinas Perkim Jombang Bilang Begini
Selama hampir satu dekade mengajar, Elvi dikenal aktif menghadirkan pembelajaran yang hidup, bermakna, dan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik.
Ketertarikannya pada teknologi pendidikan bermula saat mengikuti berbagai seminar dan pelatihan pendidikan sains.
Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat membuat pembelajaran Biologi tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode ceramah dan hafalan.
’’Biologi sangat erat kaitannya dengan teknologi. Anak-anak sekarang lebih tertarik belajar ketika diberikan media interaktif, simulasi, game edukasi, atau pembelajaran berbasis teknologi daripada hanya membaca buku atau melihat powerpoint,’’ ungkapnya.
Motivasi tersebut semakin kuat ketika laboratorium sekolah tempatnya mengajar sedang menjalani pembangunan sehingga kegiatan praktikum menjadi terbatas.
Kondisi itu mendorongnya mencari alternatif pembelajaran digital agar siswa tetap dapat memahami materi secara mendalam.
Ia kemudian memanfaatkan berbagai platform teknologi pendidikan.
Mulai dari simulasi sains, media interaktif, hingga teknologi kecerdasan buatan untuk membantu siswa memahami materi anatomi tubuh manusia, tumbuhan, dan berbagai konsep Biologi lainnya.
Perjalanan Elvi dalam dunia inovasi pendidikan membuahkan berbagai prestasi.
Ia berhasil meraih Juara 1 Guru Sobat Teknologi (GST) tingkat Kabupaten Jombang dalam ajang Festival Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (FestiKA) Jawa Timur. Dari 1.630 peserta se-Jawa Timur, Elvi juga berhasil masuk 22 finalis terbaik.
Baca Juga: Anggaran Pilkades Serentak Jombang 2027 Mulai Digodok, Diproyeksi Rp 25 Miliar
Bersama para finalis lainnya, ia turut menulis buku berjudul, Bukan Guru Biasa yang telah ber-ISBN dan diluncurkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Tak hanya itu, saat masa pandemi Covid-19, Elvi mengikuti Olimpiade Guru Biologi Nasional yang diselenggarakan Rihand Academy dan berhasil meraih medali perak atau peringkat kedua nasional.
Prestasi tersebut membuka jalan baginya untuk memperoleh Beasiswa Guru Inovatif dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur guna melanjutkan pendidikan magister Program Studi Teknologi Pendidikan melalui sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Universitas Negeri Surabaya.
Menurut Elvi, beasiswa tersebut diberikan kepada guru-guru berprestasi yang memiliki rekam jejak inovasi dan penghargaan di bidang pendidikan.
’’Sekarang saya masuk semester pertama studi S2 dan mulai berupaya mengembangkan inovasi menjadi lebih luas melalui penelitian akademik,’’ ungkapnya.
Salah satu karya inovatif yang menjadi perhatian adalah NUTRIQUEST, media pembelajaran berbasis game yang dirancang untuk meningkatkan literasi gizi siswa.
Inspirasi lahirnya NUTRIQUEST berasal dari pengamatannya selama lebih dari 10 tahun menjadi wali kelas.
Ia melihat banyak siswa mengalami gangguan kesehatan, terutama masalah pencernaan, tifus, hingga kasus diabetes pada usia sekolah yang diduga berkaitan dengan pola makan tidak sehat.
Fenomena tersebut semakin terlihat setelah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat mendampingi siswa makan bersama, Elvi menemukan banyak siswa enggan mengonsumsi buah dan sayur, bahkan sering menyisihkannya.
Baca Juga: Sembilan Desa Sudah Gelar KDAW, Tinggal Tiga Desa di Jombang Belum Musdes
’’Awalnya saya mencoba meningkatkan literasi gizi melalui buku elektronik dari Kementerian Kesehatan. Namun minat baca siswa masih rendah. Karena tidak menemukan media pembelajaran yang sesuai kebutuhan, saya akhirnya memutuskan membuat sendiri platform pembelajaran berbasis permainan digital,’’ jelasnya.
Dengan memanfaatkan Canva Code, JavaScript, kecerdasan buatan, serta belajar secara autodidak dari berbagai sumber, ia melakukan hingga 184 kali percobaan selama empat hari empat malam untuk menemukan formula yang tepat.
Hasilnya adalah NUTRIQUEST, sebuah game edukasi yang mengajak siswa memahami konsep gizi melalui tantangan interaktif.
’’Sesuai dengan saran profesor dalam ajang EJIES, inovasi tersebut terus berkembang dan kini telah diubah menjadi framework yang dapat digunakan oleh guru berbagai mata pelajaran. Alhamdulillah sudah dimanfaatkan beberapa teman guru dari berbagai kota secara gratis agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,’’ jelas ibu dua anak tersebut.
Melalui framework tersebut, guru cukup memasukkan identitas mata pelajaran dan tujuan pembelajaran. Sistem kemudian akan menyesuaikan konten literasi sesuai kebutuhan masing-masing bidang studi.
’’Tujuannya agar literasi gizi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru Biologi, tetapi bisa diterapkan lintas mata pelajaran,’’ jelasnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz