JombangBanget.id - Keterbatasan ekonomi tak menghalangi langkah Catur Ratna Sa’adah meraih mimpi.
Perempuan asal Dusun Karang Menjangan, Desa Karangwinongan, Kecamatan Mojoagung, Jombang itu kini menjalani penelitian di Korea Selatan setelah terpilih sebagai wakil Indonesia dalam program ASEAN-Korea Young Scholar Research Grant.
Nana, sapaan akrabnya, menjadi satu dari 12 peserta terpilih dari total 155 pendaftar berbagai negara. Masing-masing negara hanya diwakili satu orang.
”Pas orientasi dijelaskan kalau dari 155 pendaftar hanya dipilih 12 orang. Satu negara satu orang dan saya mewakili Indonesia. Saya sendiri juga tidak menyangka bisa lolos,” ungkapnya.
Baca Juga: Atasi Genangan Air, Dinas Perkim Jombang Usulkan Rehabilitasi Trotoar Buya Hamka Rp 3 Miliar
Sejak kecil, perempuan kelahiran Jombang, 5 Februari 2004 dikenal gemar belajar dan membaca. Ia juga menekuni hobi menulis yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan akademiknya.
”Sejak SD saya memang suka belajar dan membaca. Saya juga suka menulis cerita pendek dari kecil,” ujarnya.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN Karangwinongan 2, SMPN 1 Mojoagung, hingga MAN 1 Jombang.
Ketertarikannya pada bahasa dan budaya Asia Timur membawanya memilih Sastra Jepang di Universitas Airlangga (Unair).
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, putri pasangan Mujiono dan Dwi Yudyawaroh, mengandalkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Ia juga mendapat dukungan dari keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah.
”Selama kuliah saya juga dibantu tante dan saudara. Karena kalau hanya mengandalkan uang KIP sebenarnya belum cukup untuk hidup di Surabaya,” katanya.
Kondisi tersebut tak membuatnya menyerah. Justru menjadi motivasi untuk terus berprestasi.
”Dari dulu saya memang tipe orang yang ambisius. Saya selalu berpikir kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa,” tuturnya.
Baca Juga: Niat Hindari Penyeberang, Pikap Malah Nyelonong Hantam Toko di Jombang
Semangat itu mengantarkannya lolos program fast track. Ia bisa melanjutkan S2 lebih cepat saat masih menyelesaikan S1.
”Harusnya saya baru lulus S1, tapi karena ikut fast track jadi bisa lanjut S2 lebih cepat,” ujarnya.
Kesempatan ke Korea Selatan datang dari informasi dosen pembimbing. Meski waktu persiapan singkat, Nana mampu menyusun proposal riset dalam waktu kurang dari satu minggu.
”Waktu itu saya dapat informasinya sudah H-6 penutupan pendaftaran. Jadi saya benar-benar fokus menyelesaikan proposal riset,” katanya.
Ia mengangkat penelitian tentang fenomena K-pop dan pengaruh budaya Korea di kawasan ASEAN.
”Penelitian saya tentang K-pop. Awalnya karena memang saya suka, tapi ternyata temanya relevan dengan hubungan budaya ASEAN dan Korea,” ujarnya.
Selama di Korea Selatan, Nana menjalani penelitian dengan pendampingan dosen setempat. Ia lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam aktivitas akademiknya.
”Dengan dosen pembimbing dan di kampus saya pakai bahasa Inggris,” tuturnya.
Seluruh biaya penelitian dan kebutuhan hidup ditanggung program. Bahkan, ia masih bisa menyisihkan untuk tabungan.
”Alhamdulillah semuanya ditanggung. Bahkan saya masih bisa menabung untuk persiapan biaya kuliah nanti,” ujarnya.
Menurut Nana, tidak ada metode belajar khusus. Kunci utamanya adalah konsistensi dan menikmati proses.
Baca Juga: Review Beres, Proyek PJU Ruas Kabuh-Tapen Jombang Rp 1,7 Miliar Segera Dilelang
”Kalau belajar dipaksakan malah tidak masuk. Saya lebih fleksibel. Tapi memang dari kecil saya lebih suka belajar dan membaca daripada main,” katanya.
Rencananya, Nana akan menyelesaikan penelitian selama tiga bulan dan mempresentasikan hasilnya dalam konferensi internasional sebelum kembali ke Indonesia akhir Juni 2026. Kini, ia memiliki cita-cita baru di dunia akademik.
”Sekarang saya ingin jadi peneliti,” pungkas mahasiswa program Pascasarjana Unair Prodi Kajian Sastra dan Budaya tersebut. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz