Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Siraman Sedudo Jadi Inspirasi, Guru SMPN 1 Ploso Jombang Terbitkan Kumpulan Puisi ASEAN

Wenny Rosalina • Rabu, 3 Juni 2026 | 06:49 WIB
Indah Dwi Anggraini, Guru SMPN 1 Ploso, Jombang. (Wenny Rosalina/Radar Jombang)
Indah Dwi Anggraini, Guru SMPN 1 Ploso, Jombang. (Wenny Rosalina/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Ploso, Jombang, Indah Dwi Anggraini, 45, mulai menorehkan kiprah di dunia sastra nasional.

Ia berhasil menerbitkan kumpulan puisi berjudul Siraman Sedudo yang mengangkat kekayaan budaya etnis dari 10 negara ASEAN.

Karya tersebut menjadi perhatian karena tidak hanya menyajikan puisi sebagai rangkaian kata, tetapi juga memadukan unsur sejarah, budaya, dan tradisi lokal, khususnya ritual Siraman Sedudo di Kabupaten Nganjuk.

Dalam puisinya, Indah menggambarkan tradisi Siraman Sedudo yang dilakukan setiap 1 Syuro sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa Timur.

Baca Juga: Binrohtal: Tak Semua Orang Bisa Berhaji, Tapi Bisa Raih Pahalanya Lewat Lima Amalan Ini

”Saya ingin anak muda tahu, puisi di ASEAN itu kaya dan saling berhubungan serumpun,” ungkap Indah.

Tradisi tersebut dimaknai sebagai prosesi penyucian diri lahir dan batin, penolak bala, hingga simbol harapan akan keselamatan, kesuburan, dan penguatan nilai gotong royong.

Menurut Indah, Air Terjun Sedudo bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang kuat di tengah masyarakat.

Melalui karyanya, ia ingin mengajak generasi muda untuk terus melestarikan budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Filosofi yang diangkat dalam Siraman Sedudo menekankan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Tuhan, sekaligus membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dalam kehidupan.

Bagi Indah, sastra bukan sekadar karya estetika, tetapi juga media untuk merawat identitas budaya bangsa.

Perjalanan Indah di dunia sastra dimulai pada 2023 melalui program pembinaan yang dipandu Pembina Bunda Wulan di Jawa Timur.

Sejak saat itu, ia mulai mendalami puisi Melayu dan membandingkannya dengan puisi-puisi tradisional di kawasan ASEAN melalui diskusi daring serta wawancara dengan sejumlah seniman.

Proses penulisan buku Siraman Sedudo memakan waktu hampir dua tahun. Tantangan terbesar adalah memahami konteks budaya tiap etnis agar tidak terjadi salah interpretasi.

Baca Juga: HUT ke-12 Radar Jombang, Gerakan Jombang Beratap Buah Tuai Apresiasi Bupati Warsubi

”Saya harus riset mendalam, puisi bukan sekadar rima, tapi juga cerminan nilai masyarakatnya,” jelasnya.

Dalam prosesnya, Indah juga mendapat dukungan dari Kepala SMPN 1 Ploso, Suryani, S.Pd., M.Si., yang memberikan bimbingan, motivasi, dan penguatan selama proses kreatif berlangsung.

”Bunda Suryanilah contoh sosok yang bisa memimpin, kepemimpinan beliau telah menjadi lentera yang menerangi setiap langkah warga sekolah. Di tangan Bunda Suryani visi menjadi aksi, tantangan menjadi prestasi dan sekolah kita tumbuh menjadi rumah kedua yang nyaman bagi seluruh guru, staf, dan peserta didik. Berkat kesabaran beliau, motivasi semangat menjadi obat jatuh bangunnya saya (Indah) saat berproses selama 2 tahun,” ungkap Indah.

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi dorongan penting hingga karyanya dapat terselesaikan dengan baik. Selain aktif menulis, Indah juga dikenal sebagai pembina teater sejak 2010.

Ia menilai pelestarian puisi etnis bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menjaga identitas budaya.

”Kalau kita tidak menulisnya sekarang, 20 tahun lagi generasi berikutnya bisa lupa, kita punya kekayaan sastra yang luar biasa,” pungkasnya. (wen/naz)

Editor : Ainul Hafidz
#Puisi #SMPN 1 Ploso #Jombang #asean #guru