JombangBanget.id - Pujianto, engineer asal Jombang yang memilih pulang setelah seperempat abad merantau di Jerman.
Pria kelahiran Malang tahun 1967 itu menghabiskan sebagian besar kariernya di industri penerbangan, mulai dari Indonesia hingga Jerman.
Setelah 25 tahun menetap di Negeri Panzer, kini ia memilih kembali ke tanah air dan menetap di Jombang.
Pujianto tinggal di Jl Raya Gudo 168, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang.
Selama di Jerman, ia menetap di Berse Str. 5, 28237 Bremen bersama keluarganya. Ia didampingi sang istri, Ummi Muyassaroh, serta tiga anak mereka Ita, Hafiya, dan Hanif.
Baca Juga: Peta RTRW Jombang Di-update, Pemkab Siapkan Anggaran Rp 237 Juta
Lulusan Teknik Mesin ITS Surabaya tahun 1991 itu memulai karier di industri dirgantara nasional. Dari 1992 hingga 2001, ia bekerja di IPTN yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bandung. Saat itu, ia bertugas sebagai analis dinamika struktur pesawat terbang.
”Bidang saya lebih ke development dan engineering. Kami mendesain, lalu menganalisis struktur pesawat. Ada analisis statis, dinamis, dan sebagainya,” ujarnya.
Masa kerjanya di IPTN berlangsung ketika industri dirgantara Indonesia masih dipimpin semangat besar pengembangan teknologi era BJ Habibie. Selama sembilan tahun di Bandung, Pujianto terlibat dalam pengembangan pesawat penumpang kelas menengah.
Kesempatan bekerja di luar negeri datang pada 2001. Sebulan setelah tragedi 11 September di Amerika Serikat, Pujianto berangkat ke Jerman untuk bekerja sebagai tenaga subkontrak di sejumlah perusahaan penerbangan seperti Dornier dan Airbus.
Meski pindah negara, bidang pekerjaannya tidak banyak berubah. Dunia penerbangan internasional membuat standar kerja dan perangkat lunak yang digunakan relatif sama.
”Karena di dunia penerbangan semuanya internasional, dokumentasi maupun pekerjaan menggunakan bahasa Inggris. Jadi dari sisi teknis tidak terlalu sulit menyesuaikan,” katanya.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari budaya kerja. Menurut Pujianto, ritme kerja masyarakat Jerman sangat disiplin dan terorganisir.
”Mereka well organized. Orang dari negara mana pun kalau bekerja di sana akan mengikuti ritme itu. Semuanya serba terencana dan dinamis,” ungkapnya.
Baca Juga: Pemkab Jombang Siapkan Anggaran Rp 3,6 Miliar, Proyek Jembatan Bailey Kudubanjar Segera Dilelang
Ia mengaku harus beradaptasi dengan kedisiplinan tinggi dan budaya kerja yang cepat. Di luar pekerjaan, Pujianto dan istrinya juga belajar bahasa Jerman secara bertahap agar lebih mudah berinteraksi dengan warga lokal.
”Waktu awal datang, saya benar-benar mulai dari nol. Saya dan istri ikut kursus bahasa bergantian karena anak-anak masih kecil,” tuturnya.
Ketiga anaknya tumbuh besar di Jerman. Dua anak pertama mengikuti pendidikan sejak sekolah dasar di sana, sedangkan anak ketiganya lahir di Bremen pada 2005. Pujianto menilai sistem pendidikan di Jerman sangat terbuka dan setara, termasuk bagi warga asing.
”Pendidikan wajib untuk semua anak, termasuk pendatang. Bahkan sampai perguruan tinggi nyaris gratis,” jelasnya.
Selama tinggal di Bremen, Pujianto aktif di organisasi sosial masyarakat Indonesia. Ia tergabung dalam Diaspora Indonesia Bremen dan Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB).
Aktivitas organisasi itu menjadi sarana menjaga hubungan antarsesama warga Indonesia di perantauan.
Kini, setelah lebih dari dua dekade bekerja di Jerman, Pujianto memutuskan kembali ke Indonesia. Faktor usia dan keinginan berkumpul lebih dekat dengan keluarga menjadi alasan utama.
”Saya pikir sudah cukup. Usia saya sekarang 59 tahun. Di Indonesia sebenarnya sudah masa pensiun,” katanya.
Meski begitu, rumah dan anak-anaknya masih berada di Jerman. Ia pun tidak menutup kemungkinan kembali ke Bremen sewaktu-waktu, bukan lagi untuk bekerja, melainkan sekadar mengunjungi keluarga dan melepas rindu pada negeri yang pernah menjadi rumah keduanya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz