JombangBanget.id - Ujian hidup tidak hanya berupa musibah dan kesulitan, tetapi juga nikmat seperti kekayaan, kesehatan, dan jabatan.
Rois Syuriyah MWCNU sekaligus Ketua MUI Kecamatan Ploso, Jombang, KH Ainul Yaqin menyebut tiga kunci menghadapinya, yakni sabar, syukur, dan berprasangka baik kepada Allah.
’’Ada tiga kunci agar dalam menghadapi ujian dapat nilai terbaik,’’ terangnya, saat kajian di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (6/10).
Baca Juga: Hasil Tenis Meja Popkab Jombang, SMPN 1 Mojowarno Juara
Pertama, menghadapi kesulitan dengan kesabaran. Semua yang kita jalani dan alami merupakan ujian.
Sebagaimana disebutkan di Surah Al-Mulk ayat 2: Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.
Ketika mendapatkan musibah, kesulitan, sakit, kehilangan, atau kegagalan, seorang mukmin harus belajar bersabar.
Allah berfirman: Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Baca Juga: Student Journalism: Menghafal Alquran
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali (QS Al-Baqarah 155–156).
Allah tidak mengatakan orang yang tidak pernah mendapatkan musibah. Allah justru memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar ketika mendapatkan musibah.
Nabi Ayyub alaihissalam pernah diuji kehilangan anak, harta dan sakit lama. Namun, Nabi Ayyub tidak berpaling dari Allah.
Beliau berdoa: Sesungguhnya aku telah ditimpa kesusahan, dan Engkaulah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang (QS Al-Anbiya 83).
Nabi Ayyub tidak mencela Allah. Beliau hanya mengadukan kesulitannya kepada Allah dan tetap meyakini rahmat-Nya.
Baca Juga: Luluil Maknun, Belajar Public Speaking dari Buku dan Cermin
Maka Kami mengabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya (QS Al-Anbiya 84).
Kesabaran bukan berarti tidak merasa sakit. Kesabaran berarti tetap berpegang kepada Allah meskipun hati sedang sakit.
Kedua, menghadapi nikmat dan kelapangan dengan syukur. Jangan mengira ujian hanya berupa kemiskinan. Kekayaan juga ujian.
Kesehatan juga ujian. Jabatan juga ujian. Anak-anak juga ujian. Bahkan umur panjang pun merupakan ujian. Banyak orang mampu bersabar ketika miskin, tetapi belum tentu mampu bersyukur ketika kaya.
Baca Juga: Profil Luluil Maknun, Dari Guru hingga KTU Madrasah di Jombang
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian bagi umatku adalah harta.
Harta bisa membuat seseorang lupa kepada Allah. Ketika miskin, seseorang rajin berdoa. Setelah kaya, justru masjid mulai ditinggalkan.
Ketika membutuhkan pertolongan Allah, ia rajin bersujud. Ketika hidup sudah nyaman, ia lupa kepada Dzat yang memberikan kenyamanan.
Ketiga, selalu berprasangka baik kepada Allah. Ketika doa belum terkabul, jangan mengira Allah tidak mendengar. Ketika keinginan belum terwujud, jangan mengira Allah tidak sayang.
Ketika jalan hidup terasa berat, jangan mengira Allah meninggalkan kita.
Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.
Baca Juga: Enam Raperda Prioritas 2027 Tengah Dipetakan Bapemperda DPRD Jombang, Berikut Daftarnya
Ketika Rasulullah bersama Abu Bakar radiyallahu anhu berada di Gua Tsur, Abu Bakar merasa khawatir.
Namun Rasulullah berkata: Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita (QS At-Taubah 40).
Keadaan di luar sangat genting, tetapi hati Nabi tetap yakin dengan pertolongan Allah. Inilah prasangka baik kepada Allah.
Di tengah kekhawatiran, seorang mukmin tetap yakin: Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertawakal dan berusaha taat kepada-Nya.
Orang yang tawakal atau pasrah pasti akan ditolong oleh Allah Ta’ala. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz