Binrohtal: Investasi Akhirat, Berikut Tiga Cara Menggunakan Harta agar Berpahala

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 06:07 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Harta tidak hanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga menjadi sarana investasi akhirat.

Hal itu disampaikan Ustad Hambali saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (25/9), dengan tiga cara utama.

Yakni untuk menunjang ibadah, membantu sesama, serta membangun kemaslahatan umum dan amal jariyah.

Baca Juga: Dua Vario Beradu di Kwaron Jombang, Satu Pengendara Tewas

’’Ada tiga cara terbaik menggunakan harta agar bernilai investasi akhirat,’’ tuturnya.

Pertama, untuk diri sendiri sebagai sarana ibadah. Misalnya menggunakan harta untuk haji dan umrah.

Makanan yang halal dan bergizi, pakaian yang layak, rumah yang nyaman, hingga biaya pendidikan juga dapat menjadi sarana ibadah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan, seseorang membutuhkan makanan, tempat tinggal, pakaian dan berbagai kebutuhan agar tubuh serta pikirannya dapat menjalankan ibadah dengan baik.

Baca Juga: Investasi Masuk Jombang Rp 1,55 Triliun, Ini Sektornya

Orang yang terus-menerus memikirkan kelaparan atau kebutuhan pokok tentu akan sulit berkonsentrasi dalam beribadah.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat. Setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.

Rasulullah juga bersabda: Sesungguhnya engkau tidak menafkahkan suatu nafkah dengan mengharap wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, sampai makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.

Makan bisa bernilai ibadah ketika diniatkan agar kuat beribadah. Bekerja mencari nafkah juga dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dengan cara halal dan diniatkan memenuhi kewajiban.

Kedua, untuk membantu orang lain. Harta jangan hanya berputar untuk kepentingan diri sendiri. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk membantu orang lain.

Imam Al-Ghazali menyebut beberapa bentuknya. Antara lain, sedekah kepada fakir miskin, memuliakan tamu dan menjaga silaturahmi, menjaga harga diri dengan tidak merendahkan orang lain, serta memberikan upah yang layak kepada pekerja.

Baca Juga: KDAW Tuntas, Dua Kades di Jombang Segera Dilantik

Allah Ta’ala berfirman: Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan (QS Al-Maidah: 2).

Rasulullah juga bersabda: Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.

Abdurrahman bin Auf radiyallahu ‘anhu menggunakan kekayaannya untuk membantu perjuangan kaum muslimin.

Pada Perang Tabuk, Rasulullah mendorong para sahabat untuk memberikan harta sesuai kemampuan. Abdurrahman bin Auf datang membawa harta untuk membantu kebutuhan pasukan.

Baca Juga: Delapan Diesel Petani Jombang Disatroni Pencuri, Onderdil Raib Semua

Para sahabat lain juga berlomba-lomba memberikan apa yang mereka miliki.

Memberi makan orang miskin, membantu saudara yang kesulitan, memuliakan tamu, atau memberikan hak pekerja dengan baik bukan sekadar mengurangi harta. Semua itu dapat menjadi bekal akhirat.

Ketiga, untuk kemaslahatan umum dan amal jariyah. Yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang.

Seperti membangun atau memperbaiki masjid, sekolah, sumur, jalan, fasilitas kesehatan, serta berbagai sarana yang bermanfaat.

Ketika masyarakat Madinah mengalami kesulitan mendapatkan air, Rasulullah mendorong orang yang mampu untuk membeli sumur Ruma dan menjadikannya sebagai sedekah bagi kaum muslimin.

Utsman bin Affan radiyallahu anhu kemudian membelinya dan mewakafkannya untuk masyarakat.

Baca Juga: Renungan Minggu: Malam Tak Selamanya, Fajar Pasti Tiba

Hingga sekarang sumur itu masih ada dan dimanfaatkan. Harta bisa memiliki umur manfaat yang jauh lebih panjang daripada umur pemiliknya.

Rasulullah bersabda: Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Jangan sampai harta yang kita cari siang malam hanya menjadi tumpukan angka di rekening.

Sementara ketika ajal datang, tidak ada yang dapat dibawa kecuali amal yang pernah kita tanam. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
harta akhirat Binrohtal investasi pahala