Binrohtal: KH Moh Roihan Ingatkan Bahaya Sebar Berita Tanpa Tabayun

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 06:05 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Pengasuh PP Shofwanul Hikmah, Badas, Kecamatan Sumobito, KH Moh Roihan Sugondo mengingatkan umat Islam agar tidak mudah percaya pada setiap berita yang diterima tanpa terlebih dahulu melakukan tabayun atau memastikan kebenarannya.

Pesan itu disampaikan dalam kajian usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (16/9).

’’Termasuk tanda keimanan seseorang yakni tabayun atau mengecek kebenaran suatu informasi,’’ tuturnya.

Baca Juga: Travel Tak Jelas, 83 Jemaah Umrah Jombang Beli Tiket Sendiri Rp 7,2 Juta

Sebagaimana disebutkan di Quran Surat Al-Hujurat ayat 6.

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.

Alkisah, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat dari Bani Musthaliq yang telah masuk Islam.

Ketika mengetahui kedatangan utusan Rasulullah, Bani Musthaliq keluar untuk menyambutnya. Mereka hendak menerima kedatangan utusan tersebut dan menyerahkan zakat yang telah mereka persiapkan.

Baca Juga: Jalan Kemuning Jombang Ditutup 30 Hari, Catat Jalur Alternatifnya

Namun, Al-Walid justru merasa takut. Karena pada masa jahiliah pernah terjadi permusuhan antara Al-Walid dan mereka. Karena rasa takut tersebut, ia kembali kepada Rasulullah sebelum bertemu dengan mereka.

Al-Walid kemudian menyampaikan laporan bahwa Bani Musthaliq tidak mau menyerahkan zakat dan bahkan hendak menyerangnya.

Nabi lalu mengutus Khalid bin Walid untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Ia memeriksa keadaan Bani Musthaliq dan mendapati mereka masih memegang Islam, terdengar azan dan salat di tengah mereka.

Ternyata persoalannya tidak seperti laporan yang pertama diterima.

Dari peristiwa tersebut turunlah ayat di atas, ’’Maka telitilah kebenarannya.”

Seandainya berita langsung dipercaya tanpa pemeriksaan, kaum yang tidak bersalah bisa terkena akibat dari informasi yang keliru.

Ujung ayat di atas menegaskan; ’’Agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.’’

Baca Juga: Ditanam Belakangan, Padi MSP 65 di Jombang Panen Duluan

Allah Ta’ala mengingatkan akibat dari informasi yang tidak diperiksa. Sebuah berita yang salah bisa membuat seseorang menuduh orang lain, merusak nama baik, memutus persaudaraan bahkan menimbulkan permusuhan.

Karena itu, orang beriman tidak boleh menjadikan ’’katanya’’ sebagai dasar untuk menghukumi orang lain.

Ayat ini juga mengajarkan keseimbangan. Ketika menerima berita, seorang muslim tidak langsung percaya, tetapi juga tidak langsung menuduh berita tersebut sebagai kebohongan.

Orang muslim mencari kejelasan. Inilah makna tabayun, berusaha memperoleh kejelasan dan memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum mengambil sikap.

Baca Juga: UKM Asal Jombang Raih Jamsostek Award, Ini Komitmennya

Perintah tabayyun bertujuan agar seseorang tidak menjadikan berita yang belum jelas sebagai dasar keputusan. Sebab orang yang menyampaikan berita bisa saja keliru atau tidak sesuai dengan kenyataan.

Pesan QS Al-Hujurat ayat 6 ini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah potongan video, pesan singkat, foto, rekaman suara, atau tulisan dapat beredar dengan cepat. Namun, cepat beredar tidak berarti benar.

Karena itu, sebelum meneruskan sebuah informasi, hendaknya bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya mengetahui sumbernya? Apakah informasinya sudah diperiksa?

Apakah ada konteks yang belum saya ketahui? Apakah jika berita ini salah, ada orang yang akan dirugikan?

Jika belum jelas, menahan diri lebih baik daripada ikut menyebarkan sesuatu yang ternyata keliru.

Hikmahnya, jangan mudah percaya kepada setiap berita. Berita perlu diperiksa sebelum dijadikan dasar tindakan. Kedua, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan.

Baca Juga: Kisah Dewi Sri Hidup di Panggung Wirosobo Fest 2026 Jombang

Keputusan yang dibuat berdasarkan informasi yang salah dapat melahirkan penyesalan.

Ketiga, jaga kehormatan orang lain. Kesalahan menyebarkan berita bukan hanya persoalan antara pembawa berita dan penerima berita, tetapi bisa merugikan orang yang menjadi sasaran informasi.

Keempat, diam terkadang lebih selamat daripada berbicara. Ketika kebenaran sebuah informasi belum jelas, menahan diri merupakan pilihan yang lebih aman.

Kelima, tabayun menjaga persaudaraan. Banyak pertengkaran bermula dari informasi yang tidak lengkap atau salah dipahami.

Dengan memeriksa kebenaran, seseorang dapat mencegah masalah sebelum menjadi besar.

Keenam, orang beriman harus bertanggung jawab terhadap informasi. Tidak cukup mengatakan, ’’Saya hanya meneruskan.’’ Setiap orang tetap memiliki tanggung jawab terhadap apa yang ia sampaikan kepada orang lain.

Allaj Ta’ala berfirman; Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS Al-Isra ayat 36). (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
tabayun berita bahaya Binrohtal Jombang