JombangBanget.id - Sifat manusiawi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam membuat kehidupan Rasulullah mudah dipahami sekaligus diteladani umat.
Pengasuh PP Al-Madienah, Denanyar, KH Muhammad Najib Muhammad menyampaikan hal tersebut saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (9/9).
’’Dakwah Nabi selama 23 tahun bisa membawa Islam ke seluruh dunia karena Nabi mengedepankan sifat manusiawinya sehingga mudah diterima manusia,’’ tuturnya.
Baca Juga: Student Journalism: Memahami Kebebasan Wanita
Semakin rusak suatu masyarakat, maka pendakwah yang ditugaskan harus semakin hebat.
’’Nabi ditugaskan di Arab karena saat itu sangat rusak, sangat jahiliyah,’’ terangnya.
Namun Nabi bisa mengubahnya secara gemilang. Layaknya manusia, Nabi makan, minum, tidur, menikah, bekerja, merasakan lapar dan kenyang, sedih dan bahagia, serta menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan.
Allah Ta’ala berfirman: Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diberi wahyu (QS Al-Kahfi 110).
Baca Juga: Kades Jadi Raja Majapahit, Pesan Budaya Muncul di GFC 2026
Sisi manusiawai Rasulullah membuat umat mudah memahami dan meneladani beliau.
Para sahabat dapat melihat secara langsung bagaimana Nabi salat, bersabar, bermuamalah, memimpin keluarga, berdagang, menghadapi musuh, hingga memperlakukan orang yang berbuat buruk kepadanya.
Rasulullah pernah mengalami kesulitan yang berat. Ketika berdakwah di Thaif, Nabi mendapat penolakan dan perlakuan buruk.
Namun, Nabi tetap bersabar dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka.
Bahkan, Nabi mendoakan agar dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman: Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu melainkan mereka benar-benar memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar (QS Al-Furqan 20).
Baca Juga: Kejari Jombang Periksa Penyelia Bank, Dalami Utang KPRI Sejahtera Rp 2,64 Miliar
Ayat ini menunjukkan bahwa para rasul memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Hal tersebut menjadikan kehidupan mereka dapat menjadi teladan bagi umat.
Nabi hadir dengan mukjizat terbesar berupa Alquran, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, Nabi tetap menampilkan sosok manusia yang dapat diteladani.
Rasulullah memberikan contoh melalui kehidupan sehari-hari.
Nabi menjadi manusia yang dekat dengan umatnya sekaligus membawa wahyu dan risalah dari Allah Ta’ala.
Baca Juga: Steel Sheet Mulai Dipancang, Begini Progres Proyek Bendung Jatimlerek Jombang
Dalam keseharian, Nabi pernah mendapat teguran dari istri, bercanda, makan bersama keluarga, membantu pekerjaan rumah, dan mengalami kesedihan.
Sayyidah Aisyah radiyallahu anha menceritakan; Ketika Nabi bersamanya, datanglah makanan yang dikirim oleh salah satu istri beliau.
Aisyah kemudian memecahkan wadah makanan tersebut karena merasa cemburu.
Rasulullah tidak bersikap keras. Nabi justru mengumpulkan makanan yang tumpah dan berkata: ’’Ibu kalian sedang cemburu.’’
Kemudian Nabi mengganti wadah yang pecah tersebut.
Nabi menangis ketika kehilangan orang yang dicintai. Ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, Rasulullah menangis.
Baca Juga: Kredit Macet KPRI Sejahtera Jombang Tembus Rp 45 Miliar, Ada Apa?
Nabi bersabda: Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih.
Beliau nabi, tetapi ketika kehilangan anak, tetap merasakan kesedihan sebagaimana seorang ayah.
Nabi juga pernah kalah perang di perang Uhud.
Nabi juga mau menerima nasihat. Ketika tiba di Badar, Rasulullah menentukan posisi pasukan muslim.
Nabi memilih suatu tempat untuk dijadikan posisi pasukan.
Baca Juga: Bukan Otomatis, Ini Penentu Perpanjangan Kontrak PPPK Paruh Waktu Jombang
Kemudian Hubab bin al-Mundzir radiyallahu anhu bertanya apakah posisi tersebut merupakan ketetapan dari Allah atau merupakan pendapat dan strategi Rasulullah sendiri?
Ketika diketahui itu pendapat dan strategi Nabi, Hubab mengusulkan agar pasukan ditempatkan di lokasi yang lebih strategis, yaitu mendekati sumber air sehingga kaum muslimin dapat menguasai sumber air dan membuat tempat penampungan air.
Rasulullah menerima usulan tersebut. Beliau kemudian memerintahkan pasukan untuk berpindah ke tempat yang diusulkan Hubab.
’’Karena Nabi kental sifat manusiawinya, maka kita semua bisa meneladaninya,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz