JombangBanget.id - Mengampuni bukan berarti melupakan kesalahan atau membiarkan diri terus disakiti.
Dalam renungan di GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Pendeta Petrus Harianto STh mengajak jemaat memahami pengampunan sebagai jalan untuk melepaskan hati dari kebencian dan menemukan kembali damai sejahtera Tuhan.
’’Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu,’’ tuturnya mengutip Efesus 4:32.
Baca Juga: 300 Ton Limbah B3 di Jombang Diangkut, Sisa Segini yang Belum Dipulihkan
Tidak semua luka dapat sembuh dengan cepat. Ada perkataan yang begitu menyakitkan. Ada pengkhianatan yang sulit dilupakan.
Ada perlakuan yang meninggalkan bekas di dalam hati selama bertahun-tahun.
Seringkali kita berpikir bahwa dengan menyimpan kemarahan atau kebencian, kita sedang menghukum orang yang telah menyakiti kita.
Padahal kenyataannya, hati kitalah yang terus dibelenggu oleh rasa sakit itu.
Baca Juga: BPK Turun Audit Proyek Sekolah Rakyat Jombang, Ini Kondisinya
Di tengah kehidupan saat ini, banyak orang memilih memutuskan hubungan, menyimpan dendam, atau membalas kejahatan dengan kejahatan.
Dunia menganggap mengampuni adalah tanda kelemahan. Namun firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda.
Mengampuni bukan berarti melupakan kesalahan atau membenarkan perbuatan yang salah.
Mengampuni juga bukan berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti.
Mengampuni berarti menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan melepaskan hati kita dari belenggu kebencian.
Ketika kita mengampuni, kita sedang memilih taat kepada Tuhan. Kita membuka ruang bagi damai sejahtera-Nya untuk memulihkan hati yang terluka.
Baca Juga: Begini Respons Rais Aam Saat Tinjau Persiapan Muktamar NU di Tambakberas Jombang
Tuhan Yesus telah memberikan teladan yang sempurna. Bahkan ketika tergantung di kayu salib, Dia masih berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya.
Kasih seperti itulah yang Tuhan ingin kita melakukannya dan terus bertumbuh di dalam hidup kita.
Firman Tuhan berkata; ’’Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.’’ (Efesus 4:32).
Coba kita renungkan saat ini, adakah seseorang yang masih sulit kita ampuni?
Baca Juga: Sudah Akhir Agustus, Begini Progres 80 Proyek PJU Skema PIK di Jombang
Adakah luka yang masih kita simpan sehingga menghalangi sukacita dan damai sejahtera Tuhan? Datanglah kepada Tuhan dan serahkan semuanya kepada-Nya.
Mengampuni memang tidak selalu mudah, tetapi selalu membawa kebebasan bagi hati. Ketika kita mengampuni, kita tidak sedang mengubah masa lalu, tetapi kita sedang memberi kesempatan kepada Tuhan untuk memulihkan masa depan.
’’Biarlah kasih Allah memenuhi hati kita, sehingga kita mampu mengampuni seperti Dia telah lebih dahulu mengampuni kita. Tuhan Yesus memberkati,’’ ungkapnya. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz