Binrohtal: Sudah Merdeka dari Penjajahan, tapi Apakah Hati Kita Merdeka?

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:02 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - Peringatan kemerdekaan Indonesia dapat menjadi momen untuk merefleksikan kemerdekaan hati dari amarah, dendam, iri hati, kesombongan, dan hawa nafsu.

Pesan itu disampaikan Pengurus MWCNU Kecamatan Mojoagung, H Ainul Mubin dalam kajian di Polres Jombang, Rabu (19/8).

’’Kita perlu mensyukuri kemerdekaan dari penjajah 17 Agustus 1945. Tapi kita juga perlu meraih kemerdekaan hakiki dari amarah dan nafsu,’’ tuturnya.

Baca Juga: Tafsir Aktual: Al-Fatihah (13) KPK-NU

Kemerdekaan jiwa yakni ketika seseorang tidak lagi diperbudak oleh amarah, hawa nafsu, keserakahan, dan keinginan buruk.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang kuat yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Hawa nafsu sering mengajak manusia kepada sesuatu yang menyenangkan sesaat, tetapi dapat membawa penyesalan panjang.

Nafsu berkata, ’’Balas!’’ Akal sehat berkata, ’’Maafkan.’’ Nafsu berkata, ’’Ambil!’’ Iman berkata, ’’Itu bukan hakmu.’’

Baca Juga: Dari Tambakberas Jombang, Khilma Anis Bawa Pesantren ke Panggung Nasional

Nafsu berkata, ’’Ikuti keinginanmu!’’ Takwa berkata, ’’Tahanlah karena Allah.’’

Perjuangan melawan hawa nafsu dan mengendalikan amarah pada awalnya membutuhkan perjuangan yang berat.

Namun, jika seseorang terus melatih dirinya, sifat sabar dan pemaaf dapat menjadi kebiasaan.

Puncak marah hanya 90 detik. Kita bisa menahannya dengan ganti posisi dan wudu kemudian salat sunah dua rakaat.

Suatu ketika ada orang yang berbicara kepada Umar bin Abdul Aziz hingga membuatnya marah.

Namun, beliau menahan diri dan berkata; ’’Aku khawatir setan memprovokasiku dengan kekuasaan yang kumiliki sehingga aku menyakitimu hari ini. Padahal kelak aku akan berhadapan denganmu di hadapan Allah.’’

Baca Juga: Empat Warga Plosogeneng Jombang Jadi Korban Pengeroyokan, Satu Dioperasi

Umar pun memilih memaafkannya.

Begitulah orang-orang saleh menahan amarah. Mereka tidak membiarkan kekuasaan, kedudukan, atau kemampuan membalas menjadi alasan untuk mengikuti hawa nafsu.

Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, sempurnalah imannya. Ketika senang, kesenangannya tidak membawanya kepada kebatilan.

Ketika marah, kemarahannya tidak mengeluarkannya dari kebenaran. Dan ketika berkuasa, ia tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Baca Juga: Lima Proyek Jalan PSD Jombang Rp 9,5 Miliar, Begini Progres Terbarunya

Kemerdekaan sejati dimulai dari hati. Hati yang baik akan melahirkan ucapan yang baik, perbuatan yang baik, dan hubungan yang baik dengan sesama.

Allah menggambarkan keadaan orang yang berhasil menjaga jiwanya dengan firman-Nya: Wahai jiwa yang tenang.

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS Al-Fajr 27–30).

Inilah cita-cita terbesar seorang mukmin: Meninggalkan dunia dalam keadaan hati yang baik dan memperoleh husnul khatimah.

Kemerdekaan bangsa memang harus disyukuri.

Namun, jangan sampai kita sibuk merayakan kemerdekaan negeri sementara hati kita masih dijajah oleh dendam, iri hati, kesombongan, amarah, dan hawa nafsu.

Baca Juga: 2.000 Peserta Jalan Sehat, Himpaudi Jogoroto Jombang Perkuat Sinergi

Apa artinya merdeka dari penjajahan manusia jika kita masih menjadi budak hawa nafsu?

Apa artinya bebas menentukan pilihan jika pilihan kita masih dikendalikan oleh keinginan yang menjauhkan kita dari Allah Ta’ala?

Jadikan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk memerdekakan diri dari segala sesuatu yang merusak hati. Syukuri kemerdekaan dengan salat 17 rakaat setiap hari.

Salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana untuk membentuk hati. Dengan salat, seorang hamba meninggalkan kesibukan dunia dan menghadap Allah Ta’ala.

Dalam sehari semalam, lima kali kita diingatkan bahwa ada Tuhan yang harus ditaati. Ada kehidupan akhirat yang harus dipersiapkan. Serta ada hawa nafsu yang harus dikendalikan. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
penjajah hati Binrohtal Jombang merdeka