Binrohtal: Meninggalkan Dosa Juga Termasuk Amal Besar

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:43 WIB
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.
Binrohtal, sebuah tulisan soal ceramah islam dari beberapa tokoh islam di Jombang.

JombangBanget.id - HM Fauzi mengingatkan meninggalkan dosa dan menahan diri dari maksiat merupakan amal besar yang membutuhkan keteguhan hati.

Pengasuh PP Sunan Ampel 3 Gudo itu menyampaikan pesan dalam kajian di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (20/8).

’’Beribadah kepada Allah Ta’ala bukan hanya tentang memperbanyak amal kebaikan, tetapi juga bersungguh-sungguh meninggalkan segala yang dilarang-Nya,’’ tuturnya.

Baca Juga: Gus Sentot: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Menebar Manfaat

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah.

Dan apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah semampu kalian.

Ini menunjukkan meninggalkan larangan lebih berat. Terhadap larangan, Nabi tidak sekadar meminta kita tidak melakukan, tetapi juga menjauhinya.

Sebagaimana disebutkan di QS Al-Baqarah 187.

Baca Juga: Gus Salam Ingatkan Panitia Muktamar NU Soal Netralitas

Melakukan ketaatan seperti salat hanya membutuhkan beberapa menit. Tetapi meninggalkan maksiat membutuhkan keteguhan hati yang terus-menerus.

Memiliki kesempatan membalas keburukan tetapi memilih memaafkan. Mampu berbicara kasar tetapi memilih diam.

Mempunyai kesempatan mengambil hak orang lain tetapi memilih amanah. Itulah perjuangan.

Menahan diri dari dosa merupakan amal yang besar.

Nabi bersabda; Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Jangan takut kehilangan sesuatu karena meninggalkan yang haram. Jika seseorang meninggalkannya karena Allah, Allah mampu memberikan pengganti yang lebih baik.

Baca Juga: Jelang Dibuka Presiden Prabowo, Bupati Warsubi Cek Venue Muktamar NU di Tambakberas Jombang

Maksiat bukan hanya perkara dengan Allah. Ada dosa yang berkaitan dengan hak manusia dan makhluk lainnya.

Karena itu, jangan sampai seseorang merasa sudah saleh hanya karena rajin beribadah, tetapi masih suka menzalimi manusia.

Rasulullah bersabda: Orang yang bangkrut yakni orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat. 

Tetapi juga membawa dosa mencela, menuduh, mengambil harta, menyakiti, atau menzalimi orang lain. Kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya.

Baca Juga: Biasakan Anak Makan Ikan, Jombang Gencarkan GEMARIKAN

Jika kebaikannya habis sebelum semua kezalimannya terbayar, maka dosa mereka dibebankan kepadanya.

Islam juga mengajarkan kasih sayang kepada binatang. Rasulullah menceritakan seorang perempuan yang diazab karena seekor kucing.

Kucing itu dikurung, tidak diberi makan dan minum, serta tidak dilepaskan untuk mencari makanan hingga akhirnya mati.

Sebaliknya, dalam hadis lain Rasulullah mengisahkan seorang pelacur yang kehausan.

Ia menemukan sumur, minum, lalu melihat seekor anjing yang sangat kehausan. Ia turun kembali ke sumur, mengambil air kemudian memberikan air kepada anjing tersebut. Allah pun mengampuni dosa-dosanya.

Para sahabat bertanya, ’’Apakah kita mendapat pahala karena berbuat baik kepada binatang?’’

Baca Juga: Direktur LInK: Kekayaan ASN Perlu Dicocokkan dengan Simpanan di KPRI Sejahtera

Nabi menjawab: Pada setiap makhluk hidup terdapat pahala.

Suatu ketika Abu Yazid al-Busthami pergi ke kota Hamedan di barat laut Iran.

Jaraknya 700 kilometer dari tempat tinggalnya di kota Bistam.

Di kota itu, Abu Yazid beli buah kesumba seperti rambutan. Dia  lantas pulang.

Baca Juga: Air Saluran di Sumobito Berbuih dan Bau, Begini Langkah DLH Jombang

Saat memeriksa barang yang dibeli, ternyata ada dua ekor semut yang ikut terbawa.

Meskipun semut, tapi semut juga makhluk hidup yang punya keluarga. Punya koloni sendiri. Punya sarang sendiri. Punya habitat sendiri.

Abu Yazid merasa bersalah telah membawa kedua makhluk kecil itu keluar dari tempat asal mereka. 

Maka dia segera berkemas. Untuk kembali lagi ke kota Hamedan.

Jarak ratusan kilometer beliau tempuh, demi mengembalikan dua ekor semut kembali ke rumah mereka. Semata-mata demi agar tidak menzalimi semut. (jif/naz)

Editor : Ainul Hafidz
meninggalkan Binrohtal Jombang amal dosa