JombangBanget.id - Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Jombang, H Moch Wildan Habibie, menjelaskan beberapa cara untuk mensyukuri kemerdekaan RI.
Hal itu, diungkapkannya saat ngaji usai salat Duhur Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (18/8).
’’Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa Indonesia merdeka atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Ini mengantarkan kesadaran total bahwa kemerdekaan anugerah terindah dari Allah Ta’ala melalui perjuangan para ulama, santri, syuhada dan para pahlawan,’’ tuturnya.
Baca Juga: Binrohtal: Maulid Nabi, Saatnya Menghidupkan Akhlak Rasulullah
Maka kita harus mensyukuri anugerah tersebut. ’’Ada empat cara bersyukur sebagaimana disebutkan di QS Al Hajj ayat 41,’’ terangnya.
Pertama aqomus sholah, menjaga koneksi diri dengan Allah Ta’ala sebagai Tuhan. Sehingga terbangun dan terbentuk pribadi yang memiliki energi langit alias energi positif.
Kepositifan ini tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga harus dirasakan orang lain. Yakni saleh dalam ritual dan saleh sosial.
Baca Juga: Binrohtal: Empat Mutiara dalam Diri Manusia, Ini yang Bisa Merusaknya
Kedua atuz zakah, memiliki empati dan kepedulian sosial. Punya rasa tidak tega dan tidak mudah menyakiti dan merugikan orang lain.
Ketiga amaru bil ma'ruf, pro aktif dalam kebaikan. Kalau tidak bisa baik dan menjaga kebaikan, maka setidaknya jangan sakiti, kecewakan, dan rugikan orang lain.
Keempat nahau anil munkar, preventif terhadap kemungkaran.
Karenanya Syekh Said Ramadhan Al Buti dalam kitab Hurriyatul Insan fi Dilli Ubudiyatihi Lillah pernah menyampaikan perihal indikator orang yang memiliki jiwa yang merdeka; Kemerdekaan merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan keputusan akalnya dengan keinginan jiwanya.
Dalam sebuah syair dikatakan: Hamba sahaya menjadi merdeka apabila dia merasa cukup, dan orang merdeka menjadi budak apabila ia tidak merasa puas. Maka merasa cukuplah, jangan pernah berambisi, karena tidak ada suatu apa pun yang lebih memalukan selain ketamakan.
Ini selaras dengan lagu Indonesia Raya: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Pengarang lagu ini, WR Supratman, tentu tidak sembarangan meletakkan kalimat, bangunlah jiwanya lebih dahulu dibandingkan dengan membangun badan, bangunlah badannya.
Karena membangun jiwa itu jauh lebih sulit daripada membangun badan. Membangun badan itu membangun fisik, membangun infrastruktur, membangun jalan dan membangun gedung. Semua itu mudah.
Sedangkan membangun jiwa masyarakat lebih sulit. Mau tidak mau harus punya rasa cinta dengan NKRI. Harus mencintai tanah air. Karena mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Dan orang yang punya iman harus mampu mewujudkan kecintaan dalam bentuk kebaikan, kemaslahatan, dan perdamaian. (jif/naz)
Editor : Achmad RW