JombangBanget.id - Umat Islam diajak tidak hanya mengejar kesalehan pribadi.
Tetapi juga menghadirkan manfaat bagi sesama melalui pertolongan, kepedulian, dan sikap menjauhi kezaliman.
Ustad Addin Mustaqim Alhafiz dari PP Al Amanah, Ngledok, Desa Mojokrapak, Tembelang, Jombang menjelaskan pentingnya iman dan bermanfaat bagi orang lain.
Baca Juga: Tak Hanya Penginapan, Masjid Agung Jombang Siapkan Sarapan untuk Muktamirin
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Ada dua perkara yang tidak ada sesuatu yang lebih utama daripadanya, yaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada hamba-hamba Allah. Dan ada dua perkara yang tidak ada sesuatu yang lebih buruk daripadanya, yaitu syirik kepada Allah dan menyakiti hamba-hamba Allah,’’ tuturnya, saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Jumat (14/8).
Jangankan berbuat yang manfaat, baru berniat berbuat baik saja kita sudah mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala. Maka sejak bangun tidur kita sudah harus berniat memberi manfaat kepada sesama.
Rasulullah bersabda; Siapa saja yang bangun pada pagi hari tanpa berniat zalim, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah dikerjakan.
Siapa saja yang bangun pada pagi hari dengan berniat membela orang terzalimi dan memenuhi hajat umat Islam, niscaya ia memperoleh pahala haji mabrur.
Baca Juga: Jelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, PBNU Diingatkan soal Marwah Organisasi
Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang bermanfaat bagi orang lain. Baik memberi manfaat dengan hartanya maupun jiwa dan raganya.
Sesuatu yang membahagiakan, menghilangkan rasa lapar, membuka jalan atas kesulitan, atau membayarkan hutang orang lain merupakan ibadah paling utama di sisi Allah Ta’ala.
Rasulullah bersabda; Hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat kepada orang lain.
Sementara amal yang paling utama adalah memasukkan kebahagiaan di hati orang yang beriman yang menolak rasa lapar, membuka jalan atas kesulitannya, atau membayarkan utangnya.
Rasulullah meminta umat Islam menjauhi kemusyrikan terhadap Allah dan kezaliman terhadap orang lain.
Kedua hal ini merupakan perbuatan terkeji. Keduanya sangat dibenci oleh Allah Ta’ala.
Baca Juga: Polisi Sebar Ciri-Ciri Mayat Perempuan di Sungai Brantas Jombang
Rasulullah bersabda; Dua hal tidak ada yang lebih keji dari keduanya, yaitu menyekutukan Allah dan membuat bahaya bagi umat Islam.
Jika tidak bisa berbuat baik terhadap orang lain, sekurang-kurangnya kita tidak berbuat yang membahayakan mereka atau berbuat zalim terhadap mereka.
Nabi bersabda; Allah Ta’ala senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.
Suatu hari, seorang lelaki datang kepada Sayidina Hasan bin Ali radiyallahu 'anhuma untuk meminta bantuan menyelesaikan kebutuhannya.
Baca Juga: 13 Petugas Sensus di Jombang Mundur, Biaya Pelatihan Wajib Dikembalikan
Sayidina Hasan segera bangkit dan pergi bersamanya.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu Sayidina Husain bin Ali yang sedang melakukan ibadah.
Ketika mengetahui bahwa Hasan pergi membantu orang tersebut, Husain mengatakan bahwa jika ia membantu saudaranya itu, maka pahalanya lebih besar daripada sekadar terus berada dalam keadaan ibadah pribadi.
Maka dia pun pergi bersama Hasan untuk ikut membantu orang tersebut.
Kisah ini menggambarkan sebuah prinsip penting: Ibadah yang manfaatnya dirasakan orang lain mempunyai kedudukan yang sangat mulia.
Baca Juga: Honda Beat Tabrak Dump Truk di Diwek Jombang, Pemotor Masuk RS
Ini sesuai kaidah; Ibadah yang manfaatnya meluas kepada orang lain lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya terbatas pada pelakunya.
Bukan berarti ibadah pribadi tidak penting. Salat, zikir, membaca Alquran, dan ibadah lainnya tetap merupakan kewajiban dan keutamaan.
Namun, ketika ada orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan kita dan kita mampu membantunya, jangan sampai kesalehan pribadi membuat kita menutup mata dari kebutuhan orang lain. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz