JombangBanget.id - Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan aman dan mengabdikan diri pada kebaikan.
Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Ustad M Hafidz Alhafiz menyampaikan pesan itu saat khotbah Jumat di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (7/8).
Sekaligus mengajak masyarakat memperkuat ibadah, persatuan, ilmu, dan kepedulian sosial.
Baca Juga: Kisah Hindun, dari Mengajar Sambil Berdagang hingga Pimpin Madrasah di Jombang
’’Kemerdekaan merupakan salah satu nikmat besar yang patut disyukuri. Dengan kemerdekaan, masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan aman, beribadah dengan leluasa, menuntut ilmu dengan tenang, bekerja, berkarya, serta membangun masa depan tanpa penindasan penjajah,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman di QS Quraisy 3-4; Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Kakbah) yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa di antara kalian pada pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.
Ini menunjukkan, merdeka sehingga bisa makan dengan tenang dan kondisi aman merupakan nikmat yang harus disyukuri dengan ibadah.
Baca Juga: Pensiunan PNS Pemkab Jombang Menangis, Tabungan Puluhan Tahun di KPRI Sejahtera Tak Bisa Dicairkan
Ibnu Atha'illah as-Sakandari rahimahullah berkata: Barang siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti ia telah membuka jalan bagi hilangnya nikmat itu.
Dan barang siapa mensyukurinya, berarti ia telah mengikatnya dengan tali pengikatnya.
Syukur harus diwujudkan dalam kehidupan nyata: Menjaga keamanan, merawat persatuan, memperkuat ukhuwah, meningkatkan ibadah, menuntut ilmu, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memberikan manfaat bagi bangsa serta sesama.
Syukur diwujudkan dengan tidak merusak keamanan. Tidak mudah menyebarkan kebencian, tidak memprovokasi perpecahan, serta ikut menjaga ketenteraman masyarakat.
Menjaga persatuan adalah bentuk syukur. Kemerdekaan tidak akan berarti jika masyarakatnya saling bermusuhan dan terpecah belah.
Karena itu, menjaga persatuan merupakan bagian penting dari mensyukuri kemerdekaan.
Baca Juga: IJD 2026, Hanya Mojoagung–Mojoduwur Lolos, Empat Ruas di Jombang Gagal
Persatuan bagian dari ajaran agama. Perbedaan apapun tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci.
Justru kemerdekaan harus menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan setanah air) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia).
Masyarakat yang bersatu akan lebih kuat. Sebaliknya, bangsa yang mudah dipecah belah akan kehilangan kekuatan.
Syukur tertinggi, menggunakan kemerdekaan untuk beribadah. Menggunakan kemerdekaan untuk semakin taat kepada Allah Ta’ala.
Baca Juga: Demi Kuliah di Al-Azhar Mesir, Pemuda Jombang Ini Lepas Beasiswa Maroko
Kemerdekaan lahiriah harus diiringi kemerdekaan batiniah: Bebas dari penyembahan kepada selain Allah, bebas dari kebodohan, bebas dari akhlak buruk, bebas dari keserakahan, dan bebas dari perbudakan hawa nafsu.
Kesehatan digunakan untuk kebaikan. Ilmu digunakan untuk kemanfaatan. Harta digunakan untuk membantu sesama.
Kemerdekaan digunakan untuk membangun negeri.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.
Kemerdekaan yang tidak disertai syukur dapat disalahgunakan. Sebaliknya, kemerdekaan yang disertai iman dan syukur akan melahirkan kemanfaatan.
Sahabat Bilal bin Rabah radiyallahu anhu awalnya budak yang mengalami penindasan karena mempertahankan keimanan.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU, YANMU Serahkan Dua Ambulans ke Pesantren Tambakberas
Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu anhu membeli dan memerdekakannya.
Bilal kemudian menjadi salah satu muazin Rasulullah dan memiliki kedudukan mulia.
Kisah Bilal mengajarkan, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari belenggu, tetapi kesempatan untuk mengabdikan diri kepada kebaikan.
Jika kemerdekaan digunakan untuk kebaikan, ia menjadi nikmat.
Namun jika digunakan untuk merusak diri sendiri dan orang lain, kebebasan justru dapat berubah menjadi bencana. (jif/naz)
Editor : Ainul Hafidz