JombangBanget.id – Warga Dusun Jumok, Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam, Jombang kembali dibayangi ancaman tanah longsor.
Retakan tanah sepanjang 49 meter muncul di area perkebunan setempat, Kamis (4/12).
Lebar retakan berkisar 9–20 sentimeter, dengan kedalaman mencapai 130 sentimeter di beberapa titik.
Kondisi ini membuat warga waswas, terlebih jaraknya hanya sekitar 500 meter dari permukiman.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengatakan retakan tanah pertama kali diketahui warga pada Kamis (4/12) sekitar pukul 07.00.
Temuan itu kemudian dilaporkan ke pemerintah desa dan diteruskan ke BPBD. Tim pun langsung diterjunkan untuk melakukan kaji cepat di lokasi.
”Hasilnya ditemukan retakan sepanjang 49 meter, dengan lebar bervariasi antara 9 hingga 20 sentimeter dan kedalaman antara 10 hingga 130 sentimeter di beberapa titik. Ini tidak bisa dianggap sepele apalagi jaraknya hanya sekitar 500 meter dari permukiman,” ungkap Wiku.
Di sekitar lokasi retakan, petugas juga mendapati beberapa aliran air yang berasal dari saluran pembuangan di tepi jalan.
Kondisi tanah Wonosalam yang labil membuat situasi tersebut perlu menjadi perhatian serius.
”Saat ini kita terus berkoordinasi dengan perangkat desa untuk melakukan pemantauan secara berkala serta mengimbau warga untuk menjauh dari lokasi pada saat terjadi hujan,” tambahnya.
Kepala Desa Sambirejo, Sungkono, membenarkan munculnya retakan tersebut.
Baca Juga: 146 Desa di Jombang Masuk Zona Rawan Bencana, Mulai Longsor hingga Banjir
”Ya, mulai retak sekitar empat hari lalu dan kami sudah melaporkan ke BPBD,” ujarnya.
Ia menjelaskan, titik tanah gerak berada di area perkebunan warga yang berbatasan dengan Dusun Sumberlamong.
”Kami masih menunggu hasil kajian BPBD. Namun sebagai antisipasi kami sudah mengimbau warga untuk selalu waspada, khususnya saat musim hujan seperti ini,” pungkasnya.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Jombang, pada awal Maret 2024 sejumlah rumah warga Dusun Jumok hancur terdampak tanah gerak.
Bangunan rumah hingga bagian lantai porak-poranda. Beruntung tidak ada korban jiwa.
Berdasarkan kajian BPBD, kawasan tersebut dinilai rawan longsor sehingga warga direlokasi.
Pemerintah berjanji memberikan bantuan rumah kepada sekitar 13 kepala keluarga korban longsor, namun hingga kini pembangunan rumah tersebut belum terealisasi.
Meski begitu, Pemkab telah menyediakan hunian sementara (huntara) bagi para korban.
Tidak berhenti di situ, pada Januari 2025 bencana tanah longsor kembali menerjang empat rumah warga di Dusun Jumok.
Empat orang terimbun material longsor. Dua korban ditemukan dalam kondisi luka-luka, sementara dua lainnya meninggal dunia. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz