Sinau Wayang di Jombang, Cara Kenalkan Budaya ke Generasi Muda

Wenny Rosalina • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 08:58 WIB
Kepala Disdikbud Jombang, Wor Windari mengajak generasi muda mengenal lebih dekat seni pewayangan melalui kegiatan Sinau Wayang Bersama Bunda Literasi. (Wenny Rosalina/Radar Jombang)
Kepala Disdikbud Jombang, Wor Windari mengajak generasi muda mengenal lebih dekat seni pewayangan melalui kegiatan Sinau Wayang Bersama Bunda Literasi. (Wenny Rosalina/Radar Jombang)

JombangBanget.id - Sebanyak 150 siswa mengikuti kegiatan Sinau Wayang Bersama Bunda Literasi yang digelar Disdikbud Jombang di halaman Gedung Kesenian Jombang, Sabtu (10/10).

Melalui pertunjukan wayang kulit, pengenalan tokoh pewayangan, dan dialog interaktif, peserta diajak memahami seni pedalangan sekaligus nilai budaya yang diwariskan leluhur.

Senyum sumringah menghiasi wajah siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Jombang dan siswa penyandang disabilitas dari sejumlah sekolah luar biasa (SLB).

Baca Juga: Guru Sukarela Dampingi Siswa SMAN Ngoro Jombang Berlatih Soal TKA

Pagi itu, mereka tak sekadar menyaksikan pertunjukan wayang kulit, tetapi juga berkesempatan mengenal lebih dekat seni pedalangan yang menjadi warisan budaya bangsa.

Di halaman Gedung Kesenian Jombang, Sabtu (10/10), para siswa diajak memegang wayang, mengenali tokoh-tokoh pewayangan, hingga mempelajari bahan pembuatannya dan perangkat yang digunakan dalam pertunjukan.

Cerita serta karakter tokohnya juga diperkenalkan agar mereka tak hanya menjadi penonton, tetapi memahami kekayaan budaya yang diwariskan leluhur.

Kegiatan bertajuk Sinau Wayang Bersama Bunda Literasi itu digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang melalui Program Pengembangan Kebudayaan Bidang Kebudayaan.

Baca Juga: Hadapi TKA, Siswa SMAN Jogoroto Jombang Ikuti Bimbingan Tiap Pekan

Sebanyak 100 siswa SRT 1 Jombang dan 50 siswa SLB di Kabupaten Jombang mengikuti kegiatan tersebut dengan didampingi guru dan orang tua.

Kepala Disdikbud Jombang Wor Windari mengatakan, pengenalan wayang kepada generasi muda penting dilakukan agar warisan budaya tersebut tidak sekadar mendapat pengakuan, tetapi juga dikenal dan dipahami oleh generasi penerus.

”Wayang adalah warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO sejak tahun 2007, eman banget kalau sudah diakui tapi tidak mengenalnya. Anak-anak tidak paham tentang tokoh pewayangan sehingga melalui kegiatan ini diharapkan anak-anak mengetahui budaya pewayangan,” ungkapnya.

Menurut Wor Windari, pengenalan secara langsung diharapkan menumbuhkan ketertarikan anak-anak terhadap seni pedalangan.

Bahkan, dia berharap kegiatan tersebut bisa melahirkan generasi baru yang menekuni dunia pewayangan.

”Kami akan sangat bersyukur jika nanti dari anak-anak yang hadir ada yang tertarik menjadi dalang, karena dalam wayang ada tontonan juga ada tuntunan,” jelasnya.

Pementasan wayang kulit dibawakan dalang remaja Ki Aditya Wisnu Wardana dengan lakon Inten Simbarjo.

Baca Juga: Agar Diminati Anak Muda, Ludruk Perlu Dikemas Kreatif

Kegiatan juga dikemas dalam dialog interaktif bersama dua narasumber berlatar belakang dalang, yakni Zudhistiro Bayu Pamungkas dan Anom Sekti Aji.

Rangkaian acara turut menampilkan Tari Remo Boletan dan kidungan, Tari Kreasi Angguk Jos oleh siswa SRT 1 Jombang, serta penampilan menyanyi Shafira Isyanah Putri, siswi SLBN Jombang.

Penampilan Shafira menjadi salah satu ruang partisipasi bagi siswa berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kemampuan di bidang seni.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bunda Literasi Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi, Kepala Disdikbud Jombang Wor Windari, Kepala Bidang Kebudayaan Anom Antono, Ketua Dharma Wanita Kabupaten Jombang Lilik Zulaikiyah, serta Ketua I TP PKK Kabupaten Jombang Ema Erfinа Salmanudin Yazid.

Baca Juga: Apa Makna WUH? Ludruk Jombang Ini Bicara tentang Wong Cilik

Di sela kegiatan, Wor Windari menyerahkan cendera mata berupa wayang kulit tokoh Srikandi kepada Yuliati.

Bagi Bunda Literasi Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani Warsubi, pengenalan wayang juga menjadi bagian dari upaya memperluas makna literasi.

Menurutnya, literasi tidak sebatas kemampuan membaca buku, tetapi juga memahami kehidupan, mengenal budaya, dan membentuk karakter.

”Wayang kulit adalah warisan leluhur yang penuh makna. Di balik setiap tokoh, baik itu Gatotkaca, Srikandi, Arjuna, maupun tokoh-tokoh lainnya, tersimpan nilai-nilai luhur, seperti keberanian, kejujuran, kesetiaan, dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Dia menambahkan, cerita wayang mengandung pelajaran tentang kebaikan, kerja keras, dan ketulusan.

Karena itu, pengenalan budaya perlu dikemas secara menarik agar anak-anak lebih mudah memahami pesan yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga: Usai Tryout TKA, SMKN 2 Jombang Siapkan Drill Soal Intensif

”Literasi adalah jembatan menuju masa depan. Dan wayang adalah salah satu jembatan yang sangat kuat untuk menanamkan literasi budaya sejak dini,” tegasnya.

Melalui kegiatan tersebut, peserta juga diajak mengenal seni pedalangan lewat cerita kelahiran Gatotkaca.

Yuliati berharap, Sinau Wayang tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan literasi budaya yang berkelanjutan di Kabupaten Jombang.

”Nikmatilah setiap momen hari ini. Tanyakan, dengarkan, dan rasakan. Karena setiap cerita yang kalian dengar hari ini adalah bekal untuk menjadi generasi yang cerdas, berbudaya, dan berkarakter,” pungkasnya. (wen/naz)

Editor : Ainul Hafidz
Wayang budaya Sinau Jombang Disdikbud