JombangBanget.id – Judul "WUH" menjadi pintu masuk untuk menikmati pementasan ludruk kontemporer yang mengangkat kehidupan wong cilik.
Garapan Komunitas Tombo Ati (KTA) ini dipentaskan di Gedung Kesenian Kabupaten Jombang, Minggu (11/10/), sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-116 Pemkab Jombang yang difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang.
Kisah kehidupan masyarakat di kolong jembatan menjadi ruang bagi para seniman untuk menghadirkan potret kehidupan sosial melalui panggung ludruk.
Baca Juga: Student Journalism: Membagi Waktu, Meraih Keberhasilan
Cerita tentang penderitaan dan pertikaian itu dikemas dalam pertunjukan kontemporer, tanpa meninggalkan akar kesenian tradisional yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat.
Bagi KTA, pementasan WUH menjadi produksi ke-46. Sebanyak 50 pemain dan kru terlibat dalam pertunjukan yang disutradarai Imam Ghozali Ar., penerima penghargaan Sotasoma 2023, tersebut.
Kepala Disdikbud Jombang Dra. Wor Windari, M.Si. mengatakan, pementasan ini menjadi salah satu agenda budaya penting dalam perayaan Hari Jadi Jombang tahun ini.
Melalui format kontemporer, ludruk diharapkan tetap memiliki tempat di tengah perubahan selera hiburan masyarakat.
Baca Juga: Sambil PKL, 260 Siswa SMKN Wonosalam Jombang Kerjakan Tryout TKA
”Melalui pertunjukan ini, Disdikbud Jombang berupaya menghadirkan seni ludruk, ikon kesenian khas Jawa Timur, dalam format yang lebih segar dan relevan bagi penonton masa kini. Ada videotron bagi pengunjung yang tidak mendapatkan tiket, bisa melihat di luar Gedung Kesenian Jombang,” ujarnya.
Ludruk merupakan teater rakyat Jawa Timur yang memadukan dialog, lawak, musik, dan cerita kehidupan sehari-hari.
Perpaduan tersebut membuat ludruk tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga medium untuk menyampaikan potret sosial, kritik, dan pesan kehidupan kepada masyarakat.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang Anom Antono, S.Sn. menambahkan, pengemasan secara kontemporer menjadi salah satu upaya menjaga agar ludruk tetap diminati, terutama oleh generasi muda.
Pembaruan penyajian dilakukan tanpa menghilangkan ciri khas dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Judul WUH juga menyimpan daya tarik tersendiri. Dalam bahasa Jawa, kata uwuh merujuk pada sampah atau sisa dedaunan.
Pilihan judul tersebut memberi ruang tafsir artistik bagi penonton untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan melalui cerita di atas panggung.
Baca Juga: Durian Madu Ungguli Kontes Wonosalam Jombang, Pemenang Masih Diverifikasi
”Judul "WUH" yang diangkat dalam pementasan ini menambah daya tarik tersendiri. Dalam bahasa Jawa, "uwuh" merujuk pada sampah atau sisa dedaunan. Pemilihan judul tersebut memberi ruang tafsir artistik bagi para penonton mengenai pesan yang ingin disampaikan para seniman,” terangnya.
Pementasan dijadwalkan berlangsung dalam dua sesi, yakni pukul 15.00–17.00 WIB dan pukul 20.00–22.00 WIB.
Disdikbud juga merencanakan penyediaan videotron di luar gedung agar masyarakat yang tidak memperoleh tiket tetap berkesempatan menyaksikan pertunjukan.
Melalui pementasan WUH, Pemkab Jombang berupaya memberi ruang apresiasi bagi pegiat seni sekaligus menjaga keberlanjutan kesenian daerah.
Ludruk kontemporer menjadi salah satu cara untuk mempertemukan warisan budaya dengan penonton masa kini, tanpa memutus keterikatannya dengan kehidupan masyarakat yang menjadi sumber ceritanya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz