JombangBanget.id – Pembina ekstrakurikuler keagamaan jenjang SMP diminta memperkuat sinergi dengan guru mata pelajaran (mapel) Pendidikan Agama dalam menyusun dan melaksanakan program pembinaan di sekolah.
Ini diperlukan agar kegiatan ekstrakurikuler tidak tumpang tindih dengan materi keagamaan yang telah diberikan dalam pembelajaran.
’’Sinergi dengan guru mapel agama penting agar pembinaan berjalan terpadu,’’ kata Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang, Eko Sisprihantono, kemarin.
Baca Juga: Mulok Keagamaan Dihapus, Tahfiz Juz 30 Siswa Jombang Tetap Jalan
Pembina dapat mengembangkan kegiatan yang memperkuat materi pembelajaran tanpa mengambil alih porsi guru Pendidikan Agama.
Dia juga menekankan pentingnya perencanaan tertulis dalam setiap kegiatan ekstrakurikuler, termasuk bidang keagamaan.
’’Jangan sampai tidak ada konsep tertulis, meskipun kita masuk ekstrakurikuler,’’ tegasnya.
Baca Juga: 302 Pembina Ekstrakurikuler Keagamaan Jombang Dapat Kepastian Honor, Segini Nilainya
Eko juga mendorong pembina menghadirkan inovasi dalam pelayanan keagamaan di sekolah. Program tersebut diharapkan mendukung penguatan karakter sekaligus dimensi ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
’’Buat inovasi di sekolah untuk pelayanan keagamaan karena termasuk mendukung bagian dari dimensi sekolah, yakni ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, agar semakin baik,’’ pesannya.
Pengawas SMP Disdikbud Kabupaten Jombang, Saiful Amin, juga menjelaskan, keberadaan ekstrakurikuler keagamaan seharusnya menjadi pelengkap pembelajaran Pendidikan Agama di sekolah.
Karena itu, pembina perlu memahami materi yang sudah diberikan guru mapel agama agar program yang dibuat dapat diarahkan pada penguatan praktik keagamaan.
”Pembinaan ekstrakurikuler keagamaan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran Pendidikan Agama yang diberikan guru mata pelajaran. Titik beratnya lebih pada praktik keagamaan,” jelasnya.
Menurut Saiful, peserta didik telah mendapatkan pengetahuan keagamaan melalui pembelajaran di kelas. Ekstrakurikuler kemudian menjadi ruang untuk mengimplementasikan pengetahuan dalam bentuk praktik maupun pembiasaan.
Karena itu, pembina ekstrakurikuler keagamaan diminta tidak sekadar menjalankan kegiatan rutin. Setiap program perlu memiliki tujuan dan target yang jelas sehingga hasil pembinaan dapat diukur.
’’Pembina ekstrakurikuler juga harus punya semacam RPP, sehingga target-target yang ingin dicapai dapat dirumuskan dengan jelas,’’ ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Achmad RW