Hasil Rehabilitasi SD Negeri di Jombang Dikeluhkan, Sekolah Sebut Kualitasnya Jelek

Wenny Rosalina • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 06:45 WIB
Bagian dari rehabilitasi SDN Jarak 1 Kecamatan Jogoroto yang dinilai kurang pas, (31/8).
Bagian dari rehabilitasi SDN Jarak 1 Kecamatan Jogoroto yang dinilai kurang pas, (31/8).

JombangBanget.id – Pengerjaan rehabilitasi bangunan di SDN Jarak 1, Kecamatan Jogoroto dikeluhkan. Pasalnya, setelah pengerjaan ditinggalkan pelaksana, pihak sekolah masih menemukan sejumlah bagian bangunan yang dinilai belum tuntas dan kurang rapi.

Kepala SDN Jarak 1, Luluk Zuliatin, mengatakan pekerja sudah meninggalkan pekerjaannya sekitar 10 hari tanpa keterangan ke pihak sekolah. ’’Sudah 10 harian pekerja tidak ke sekolah lagi, tapi tidak memberikan keterangan selesai atau tidak. Sebelumnya yang kerja hanya dua sampai tiga orang,’’ urainya.

Tidak ada pemberitahuan dari pihak kontraktor kepada sekolah bahwa pekerjaan rehabilitasi telah selesai. Bangunan ditinggalkan begitu saja dalam kondisi kotor dan beberapa pekerjaan yang dinilainya belum tuntas.

Baca Juga: Digelontor Rp 1,8 Miliar, Proyek Rehab 19 SDN di Jombang Rampung

’’Di antara yang belum selesai, bagian dalam bangunan belum dicat. Hanya diplamir dengan tidak rapi,’’ jelasnya. Instalasi listrik juga belum tersambung, sama sekali. ’’Bahkan di teras ruang kelas tidak diberikan rumah lampu,’’ bebernya.

Bagian atap yang menghubungkan bangunan kelas lama dan bangunan baru terdapat rongga di antara kedua bangunan tersebut. Juga terdapat bagian bangunan yang tidak lurus setelah direhabilitasi. ’’Kalau hujan saya khawatir menjadi jalan masuknya air,’’ katanya.

Persoalan lain yang ditemukan yakni saluran tempat cuci tangan yang sebelumnya lancar kini tersumbat. Luluk menduga sumbatan berasal dari material sisa pekerjaan, seperti semen.

Baca Juga: Proyek Rehab Bendung Jatimlerek Kena Efisiensi, Anggaran 2026 Tinggal Rp 50 Miliar

’’Tempat-tempat cuci tangan itu dulunya lancar, sekarang mampet. Kayaknya sisa-sisa semen dari tukang,’’ ujarnya.

Bagian belakang bangunan juga masih menyisakan pekerjaan. Terdapat lubang besar yang belum ditambal.

Ruang kelas yang masih terdapat lemari tidak digeser, sehingga menyisakan tembok yang tidak dicat.

Sementara untuk perbaikan tambalan lantai, pihak sekolah sempat menemukan warna material yang berbeda dan cukup kontras. Setelah disampaikan kepada pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang, bagian tersebut kemudian diperbaiki dengan warna yang lebih menyerupai keramik lama.

’’Masak keramik lama coklat ditambal asal-asalan pakai keramik putih,’’ ujarnya.

Luluk mengaku sejak awal tidak banyak melakukan komunikasi langsung dengan kontraktor. Hal itu lantaran pihak pelaksana menyampaikan, sekolah tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap pekerjaan rehabilitasi.

’’Pemborong bilang kami tidak berhak mengawasi, yang berhak dinas,’’ katanya. Bahkan pihaknya tidak diperbolehkan mengetahui RAB (rencana anggaran dan biaya) yang harus dikerjakan kontraktor.

Selama proses rehabilitasi berlangsung, pihak dinas dua hingga tiga kali datang melakukan pengecekan ke sekolah. Selain persoalan pekerjaan yang belum tuntas, Luluk juga menyoroti tidak adanya sekat atau kosen pada bagian tertentu yang menghubungkan dua ruang kelas.

Baca Juga: Rehabilitasi 6 SMPN di Jombang Dikebut, Terlambat Rampung Bakal Didenda

Kondisi tersebut membuat sekolah harus melakukan sistem pembelajaran bergantian atau sif selama sekitar tiga bulan.

’’Saya juga kasihan ke anak-anak, tidak bisa maksimal pembelajarannya,’’ ungkapnya.

Luluk berharap bangunan segera diperbaiki sehingga benar-benar layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

’’Karena sekolah ini belum tentu mendapatkan rehab dalam waktu dekat, kita berharap diperbaiki biar layak ditempati,’’ ucapnya. (wen/jif)

Editor : Achmad RW
Jogoroto sd negeri Jombang Dikeluhkan Rehabilitasi