JombangBanget.id – Seleksi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SD di wilayah Jombang perkotaan tahun 2026 sengit.
Sejumlah sekolah di pusat kota bahkan telah menerima pendaftar jauh melebihi kuota yang tersedia sejak hari pertama verifikasi final pada Senin (22/6).
Siswa dengan usia tepat 7 tahun pada Juli mendatang juga terancam tak diterima.
Kepala SDN Jombatan 3 Jombang, Donny Erfantoro, mengatakan verifikasi final SPMB mulai dilaksanakan 22 hingga 30 Juni 2026.
Baca Juga: Ribuan Siswa Jombang Berebut Tiket OSN Nasional, Seleksi Berlangsung Online
Setelah berkas diverifikasi, data calon murid langsung masuk sistem pemeringkatan.
”Hari ini verifikasi final dimulai. Setelah diverifikasi, data langsung masuk pemeringkatan. Kalau belum diverifikasi tentu belum bisa masuk peringkat,” ujarnya.
Meski sekolah membuka layanan tatap muka, kehadiran orang tua dan calon murid tidak bersifat wajib. Sekolah tetap melakukan verifikasi terhadap berkas yang telah diunggah.
”Kami mengundang anak dan orang tua agar anak mengenal lingkungan sekolah dan kami juga bisa berkenalan dengan wali murid. Tetapi kalau tidak hadir tetap kami verifikasi,” katanya.
Hingga hari pertama verifikasi, jumlah pendaftar di SDN Jombatan 3 telah mencapai 113 anak, sementara kuota yang tersedia hanya 60 kursi.
Kuota tersebut akan dibagi dalam dua rombongan belajar (rombel).
”Pagu kami 60 siswa. Karena standar per rombel 28 siswa, kami mengajukan tambahan sehingga total bisa menampung 60 anak dalam dua kelas,” jelasnya.
Menurut Donny, kompetisi tahun ini terlihat jauh lebih ketat.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya anak kelahiran September bahkan Oktober masih berpeluang masuk, tahun ini anak dengan usia tepat tujuh tahun pun belum tentu lolos.
”Tahun ini persaingan usia paling ketat. Kalau tahun kemarin kelahiran bulan September masih masuk. Tahun sebelumnya bahkan Oktober masih bisa. Sekarang yang usia tujuh tahun saja ada yang masih berada di bawah batas kuota sementara,” ungkapnya.
Baca Juga: SPMB SMP Negeri di Jombang Jalur Domisili Mulai Dibuka Hari Ini, Simak Mekanisme Seleksinya
Ia menjelaskan, sistem seleksi menggunakan komposisi nilai 60 persen jarak domisili dan 40 persen usia.
Apabila skor akhir sama, penentuan dilakukan berdasarkan tanggal lahir yang lebih dahulu, kemudian waktu pendaftaran dalam sistem.
”Kalau skornya sama, yang lahir lebih dulu akan diutamakan. Kalau masih sama, dilihat dari waktu pendaftaran yang terekam dalam sistem,” terangnya.
Selain itu, tahun ini juga diterapkan jalur Domisili Sebaran yang menyediakan alokasi 20 persen kuota bagi anak-anak yang tinggal di sekitar sekolah.
Donny menilai kebijakan tersebut menjadi bentuk keberpihakan kepada masyarakat sekitar sekolah.
”Ini seperti golden ticket bagi anak-anak sekitar sekolah. Dari kuota 60 siswa, sekitar 12 kursi dialokasikan melalui Domisili Sebaran. Saya sangat mengapresiasi karena ini bentuk keberpihakan pemerintah kepada warga sekitar sekolah,” katanya.
Selain jalur domisili, SDN Jombatan 3 juga menyediakan kuota afirmasi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) sebesar 5 persen dan jalur mutasi orang tua sebesar 5 persen.
”Saat ini ada sekitar tiga calon siswa ABK yang mendaftar. Mereka tetap belajar di kelas reguler dan nantinya akan mendapatkan pendampingan khusus sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Baca Juga: Empat Pemuda Asal Jombang Ditangkap, Usai Bakar Motor dan Rusak Barang Warga di Surabaya
Sementara itu, Kepala SDN Kepanjen 2 Jombang, Nur Wakid, menyebut sekolahnya memilih menerapkan verifikasi secara daring.
Calon wali murid dapat memantau seluruh proses pendaftaran hingga hasil seleksi melalui sistem online.
”Verifikasi dilakukan secara online. Setelah diverifikasi, orang tua bisa langsung mendaftarkan anaknya dan memantau perkembangan secara daring. Namun kami tetap menyiapkan petugas untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mengunggah berkas,” katanya.
Hingga hari pertama verifikasi, jumlah pendaftar di SDN Kepanjen 2 telah mencapai sekitar 120 anak, sedangkan kuota yang tersedia sebanyak 112 siswa yang terbagi dalam empat rombongan belajar.
Menurut Nur Wakid, mayoritas calon murid yang mendaftar berusia sekitar tujuh tahun.
”Rata-rata usia pendaftar sekitar tujuh tahun. Sebagian besar bahkan sudah lebih dari tujuh tahun," ujarnya.
Ia menilai pola SPMB tahun ini lebih tertib dibandingkan sebelumnya karena proses pendataan tidak lagi sepenuhnya dibebankan kepada sekolah dasar.
”Kalau dulu banyak dibantu sekolah SD. Sekarang bisa dilakukan oleh TK maupun orang tua secara mandiri. Menurut saya sistem ini lebih baik dan lebih tertib,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Rhendra Kusuma, menegaskan calon murid yang tidak lolos seleksi karena kuota penuh masih dapat memilih sekolah lain yang kuotanya tersedia.
”Kalau pendaftar melebihi pagu dan tidak lolos, bisa memilih SD lain,” ujarnya.
Baca Juga: Klaim Asuransi Jemaah Haji Meninggal Asal Jombang Cair, Ahli Waris Terima Rp 57,9 Juta
Meski demikian, pihaknya masih belum dapat menyimpulkan tingkat persaingan usia pada SPMB SD secara umum tahun ini karena proses pendaftaran dan verifikasi masih berlangsung hingga akhir Juni.
”Belum bisa diketahui karena prosesnya masih berjalan dan hasil akhirnya belum keluar,” pungkasnya.
Hasil akhir SPMB SD bakal diumumkan pada 2 Juli mendatang, dan daftar ulang dan serta pemberkasan bakal dilaksanakan 3 Juli sampai 9 Juli mendatang. (wen/ang)
Editor : Ainul Hafidz