Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Kesehatan Kota Santri Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik & Pemerintahan Politika Wisata

Senja di Atas Awan

Ainul Hafidz • Selasa, 3 Maret 2026 | 08:28 WIB

Ilustrasi cerpen senja di atas awan.
Ilustrasi cerpen senja di atas awan.

AKU bukanlah seorang pujangga. Aku hanyalah seorang gadis yang terdampar dalam peliknya dunia.

Namaku Candramaya, yang kata ibu berarti cantik seperti bulan purnama. Kata orang sih aku memang cantik he..he..he.. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara.

Ayah dan ibuku dulu bekerja sebagai guru SD, ya dulu… karena sekarang ayahku sudah tiada dan ibuku sudah menyelesaikan pengabdiannya.

Karena itulah sejak kecil aku ingin menjadi guru.

Setelah lulus kuliah, disinilah perjuangan itu dimulai. Ketakutan demi ketakutan menghantuiku. Maklumlah sejak kecil aku tak pernah jauh dari ibuku, Tapi kini…

_____ ” _____

”Neng Maya, ayo, makan dulu.”

Suara lembut dan sentuhan di bahu membuyarkan lamunanku. Hatiku perih setiap kali memandang perempuan tua itu.

Perempuan sederhana yang hidupnya sendiri tidaklah mudah namun selalu berhasil membuatku tersenyum bahagia.

Ya, dialah Mak Inah, Perempuan yang hidup sebatang kara karena anak-anaknya telah jauh merantau ke kota.

Perempuan yang selalu menghibur disaat aku rindu ibuku.

Tuhan Maha Baik, di tempat sepi ini masih mempertemukan aku dengan Mak Inah, bersama Mak Inah ku jalani hari-hari sebagai guru.

Di desa nan indah dengan kabut tipis yang menyelimuti lembahnya laksana negri di atas awan.

”Bu Maya… Bu Maya…” Suara anak-anak yang tiap pagi menjemputku untuk berangkat ke sekolah bersama mereka.

”Mak.., Maya berangkat ya…” ku cium tangan keriput Mak Inah yang sedang merebus air di tungku.

Setiap hari kulalui jalanan berbatu bersama langkah kecil murid-muridku.

Jika musim kering debunya luar biasa dan dimusim hujan tak mudah mencari celah yang bisa ku lewati karena jalanan berubah bagaikan arena offroad.

Tapi ketika kulihat semangat bocah-bocah lugu di depanku, maka menguaplah segala keluhan di hatiku.

Malu rasanya ketika aku masih menuruti bisikan hati untuk keluar dari semua ini. Sementara mereka di desa ini ikhlas menerima nikmat di tempat ini.

Jadilah aku terus berjuang bersama mereka disini.

Setelah satu jam perjalanan, terlihatlah bangunan sekolah kami. Rasa lelah pun seketika melayang melihat anak-anak berhamburan meraih dan mencium tanganku.

Inilah kebahagiaanku setiap pagi. Belajar, bermain, bercanda, bahkan bekerja bersama.

Anak-anak semangat sekali jika diajak menanam ketela pohon karena nanti bisa kami panen dan dimasak untuk makan bersama-sama.

Bahagia itu sangat sederhana bagi mereka. Ditambah celoteh mereka yang tak ada habisnya.

Bukan hadiah yang membuatku bahagia tapi ketulusan dan kepercayaan kepada gurulah yang sering kali membuatku berlinang air mata.

Aku jadi teringat sebuah ungkapan bahwa keberkahan ilmu tergantung perlakuanmu kepada guru.

Tak terasa, sebentar lagi aku harus mengakhiri pengabdianku di desa ini.

Tapi benarkah aku akan gembira meninggalkan murid-muridku disini, meninggalkan keindahan desa ini, meninggalkan Mak Inah, dan meninggalkan romantisnya senja desa di atas awan?

Aku akan sangat merindukan mereka. Tapi akankah Tuhan menuntun langkahku kembali ke desa ini?

Penulis:

Setyowati Puji Rahayu (Ustadzah Yayuk), Kepala SD Islam Terpadu Al Ummah Jombang

Editor : Ainul Hafidz
#cerpen #cerita pendek #Guru Jombang #Senja #Jombang #SD Islam Terpadu Al Ummah Jombang #guru #awan #di atas awan