JombangBanget.id - Di balik sosoknya sebagai guru, Fitriah Makkawi, dikenal luas sebagai tempat berbagi cerita dan keluh kesah.
Tak sedikit siswa, remaja, hingga orang dewasa yang datang kepadanya untuk sekadar didengar, dipahami, lalu dikuatkan.
Peran sebagai konselor itu tumbuh bukan secara instan, melainkan melalui proses panjang pembelajaran dan pengalaman hidup.
Kecintaannya pada membaca dan kebiasaan menganalisa setiap peristiwa menjadi modal utama.
”Setelah sebuah kejadian, saya analisa, saya amati, lalu dari pengalaman itu saya belajar dan mendapat ilmu,” tuturnya.
Kemampuan tersebut banyak terasah sejak selepas lulus SMA, saat ia dipercaya menjadi musrifah di pondok pesantren.
Menghadapi banyak santri dengan karakter beragam, ia belajar membaca kepribadian, memahami emosi, dan membangun kedekatan batin.
Pembelajaran itu terus diperkaya secara otodidak. Fitriah aktif mengikuti berbagai seminar lintas tema, mulai dari pengembangan diri hingga public speaking.
Saat mengampu ekstrakurikuler dai, ia juga mendalami teknik berbicara di depan umum secara mandiri, dilengkapi dengan sertifikat pelatihan yang diakui.
Semua itu memperkuat perannya sebagai pendamping, motivator, sekaligus konselor bagi mereka yang membutuhkan.
Tak hanya berbagi lewat lisan, Fitriah menuangkan pemikiran dan pengalamannya dalam tulisan.
Hingga kini, ia telah terlibat dalam 12 karya antologi. Tahun 2026 ini, ia memberanikan diri melangkah lebih jauh dengan mulai menulis buku solo.
Meski masih pada bab pertama, gagasan besarnya telah jelas, yakni tentang healing bagi para guru.
Ia menangkap kegelisahan yang banyak dirasakan pendidik saat ini, terutama terkait beban administrasi yang kian berat.
”Banyak guru mengeluhkan kelelahan bukan karena mengajar, tapi karena administrasi,” ujarnya.
Dari kegelisahan itulah lahir ide menulis tentang cara-cara healing guru agar tetap waras, ikhlas, dan bahagia dalam mendidik. Judul buku memang belum final, namun semangatnya sudah bulat.
Bagi Fitriah, menulis memberikan kepuasan batin tersendiri. Saat tulisannya terbit, dibaca, dibeli, lalu memberi manfaat bagi orang lain, ia merasakan kebahagiaan yang sulit diukur.
”Harta bisa hilang, tapi ilmu, apalagi dalam bentuk tulisan, akan menjadi warisan terindah,” tuturnya.
Ia bukan tipe penulis yang memaksakan waktu. Menulis biasanya dilakukan saat rumah dalam keadaan tenang, pekerjaan rumah dan sekolah telah selesai, serta hati terasa nyaman.
Malam hari atau selepas subuh menjadi waktu favorit, ketika pikiran jernih dan ide mengalir lancar.
Tak jarang pula ide dituangkan di sela jam kosong di sekolah atau di tempat mana pun yang memungkinkan.
Alasan utamanya menulis sederhana namun mendalam. Bagi Fitriah, menulis adalah self healing.
Sebuah cara berbagi manfaat, mengabadikan pemikiran, dan menyuarakan isi hati tanpa batasan waktu.
”Menulis membuat suara hati terdengar. Dan buku adalah pesan abadi untuk anak, cucu, dan generasi setelah kita,” ungkapnya.
Ide-ide tulisan lahir dari kepekaannya mengamati hal-hal kecil. Tingkah laku siswa, curhatan sederhana, hingga fenomena sosial di sekitar sering menjadi sumber inspirasi paling jujur.
Kegemarannya membaca, berdiskusi dengan siapa pun, serta keterlibatan dalam komunitas penulis turut menjaga gagasan tetap hidup dan berkembang. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz