JombangBanget.id – Kasus bullying dan kekerasan masih marak di Jombang.
Selama Desember-Januari, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menerima laporan empat kasus.
’’Desember sampai Januari kami menerima laporan empat kasus dari teman-teman SMP terkait bullying dan kekerasan,’’ kata Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Iswahyudi Hidayat, (15/1).
Dari laporan yang masuk, mencakup anak-anak yang menjadi korban, sekaligus ada pula yang berstatus sebagai pelaku.
Bentuknya beragam, ada kekerasan fisik, perundungan, pencurian, hingga kekerasan seksual.
’’Empat itu dari satuan pendidikan negeri,’’ ucapnya.
Tidak semua kasus langsung dilaporkan ke dinas. Sebagian besar persoalan yang dinilai masih ringan dapat ditangani langsung pihak sekolah.
’’Kalau kasusnya tidak terlalu besar, biasanya bisa ditangani di satuan pendidikan dan tidak sampai dilaporkan ke kami. Kalau masalahnya besar, baru teman-teman sekolah melaporkan ke dinas,’’ jelasnya.
Dari empat kasus yang dilaporkan, dinas melakukan koordinasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB-PPPA) untuk memberikan pendampingan psikologis.
Salah satu kasus bahkan menimpa dua anak. Satu anak dapat diselesaikan secara kekeluargaan, sementara satu lainnya harus mendapatkan pendampingan psikologis lanjutan.
Sepanjang 2025, jumlah laporan bullying dan kekerasan relatif sedikit, tidak sampai sepuluh kasus.
Baca Juga: Hasil Riset Ikatan Pelajar di Jombang Ini Sebut 46 Persen Pelajar Jadi Korban Bullying
Hal ini diduga karena sebagian besar kasus telah ditangani dan didamaikan di tingkat sekolah.
’’Sekolah sebenarnya sudah sangat tanggap. Mereka punya TPPKS (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan) yang sudah terstruktur. Yang menangani dan anggotanya sudah jelas. Sebisa mungkin anak-anak tetap bisa melanjutkan sekolah dan tidak sampai putus sekolah,’’ tegasnya.
Tidak semua kasus terjadi di lingkungan sekolah.
Beberapa kasus justru terjadi di luar sekolah, sehingga menyulitkan penanganan karena berada di luar kewenangan langsung satuan pendidikan.
’’Yang di luar sekolah ini yang kadang membuat kita bingung. Tapi yang pasti tetap butuh koordinasi agar anak-anak tetap terlindungi,’’ terangnya.
Masih banyak anak yang tidak berani melapor saat mengalami bullying atau kekerasan.
Tidak jarang, kasus baru terungkap setelah anak menunjukkan perubahan perilaku atau bahkan meluapkan emosi di luar sekolah.
’’Kami di dinas pendidikan dan sekolah sudah berusaha semaksimal mungkin agar kejadian bisa tertangani. Tapi kalau anak tidak berani melapor, ini juga menjadi tantangan tersendiri,’’ ucapnya. (wen/jif)
Editor : Ainul Hafidz