DALAM lanskap kebudayaan Indonesia hari ini, seni tradisional kerap ditempatkan pada posisi yang ambigu.
Di satu sisi, ia dielu-elukan sebagai warisan budaya; di sisi lain, ia dibiarkan berjalan terseok tanpa dukungan nyata.
Kentrung Jatimenok—seni tutur musikal yang hidup di wilayah Jatimenok, Jombang, Jawa Timur—mengalami paradoks tersebut.
Ia dipuji sebagai khazanah lokal, namun perlahan kehilangan ruang hidupnya.
Yang tersisa sering kali hanyalah dokumentasi seremonial, bukan praktik budaya yang benar-benar berdenyut dalam kehidupan masyarakat.
Tulisan ini berangkat dari penelitian lapangan yang dilakukan penulis dan diangkat dalam disertasi berjudul Kentrung Jatimenok Lakon Ajisaka: Kajian Etnosemiotika.
Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini memadukan etnografi dan kajian tanda untuk membaca kentrung bukan semata sebagai seni pertunjukan, melainkan sebagai teks budaya yang hidup dan bekerja dalam masyarakat pendukungnya.
Sebagai seni pertunjukan tradisional, kentrung tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga berfungsi strategis dalam mempertahankan identitas lokal.
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang kerap mengikis tradisi, kentrung justru menunjukkan daya tahannya melalui cara bertuturnya yang khas.
Melalui tokoh, benda, dan latar cerita, kentrung menjembatani warisan budaya dengan realitas masyarakat masa kini.
Cerita yang disampaikan bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan medium pewarisan nilai yang terus dihidupkan.
Baca Juga: Kolaborasi Seni dan Pendidikan, Pesbukab Jombang 2025 Apresiasi Sekolah dan Guru Berprestasi
Dalam kentrung Jatimenok lakon Ajisaka, pengenalan nilai-nilai lokal hadir secara konkret.
Konflik utama antara Ajisaka dan Dewata Cengkar menyampaikan pesan moral yang bersifat lebih luas.
Pertarungan keduanya dapat dibaca sebagai simbol benturan antara kebijaksanaan dan keserakahan, antara kepemimpinan bermoral dan kekuasaan yang menindas.
Kemenangan Ajisaka bukan sekadar penutup cerita, melainkan pesan tentang kemenangan nilai moral atas kejahatan—pesan yang melintasi batas waktu dan tetap relevan hingga kini.
Namun, kekayaan makna tersebut tidak selalu mudah ditangkap, terutama ketika konteks budaya semakin menjauh dari kehidupan generasi muda.
Di sinilah dokumentasi dan edukasi menjadi krusial.
Tanpa upaya pemaknaan yang berkelanjutan, kentrung berisiko direduksi menjadi tontonan eksotik, kehilangan fungsinya sebagai media pewarisan nilai.
Padahal, kentrung Jatimenok menyimpan potensi besar sebagai sarana pemertahanan tradisi lokal di tengah kenyataan bahwa banyak kesenian daerah perlahan menghilang dari ingatan kolektif.
Jika kentrung ingin terus hidup, pendidikan adalah ruang yang paling strategis.
Pelestarian tidak cukup dilakukan melalui festival atau dokumentasi semata, melainkan perlu diintegrasikan ke dalam ruang-ruang pembelajaran.
Pendidikan memungkinkan tradisi tidak berhenti sebagai ingatan, tetapi hadir sebagai pengetahuan yang dipelajari dan dimaknai ulang.
Di tingkat perguruan tinggi—khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia—kentrung Jatimenok dapat dimanfaatkan sebagai sumber ajar kontekstual untuk mata kuliah Sastra Lisan dan Semiotika.
Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan teori, tetapi juga diajak membaca praktik budaya lokal sebagai teks yang hidup, penuh nilai sosial dan kemanusiaan.
Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, pertunjukan kentrung lakon Ajisaka berpeluang menjadi sumber pembelajaran lintas mata pelajaran.
Seperti Bahasa Indonesia, PPKn, dan Seni Budaya. Sekaligus bahan Proyek Profil Pelajar Pancasila.
Cerita dan simbol kentrung memungkinkan penanaman nilai karakter—gotong royong, tanggung jawab, kepemimpinan, serta kecintaan terhadap budaya daerah—secara lebih kontekstual dan bermakna.
Pada akhirnya, kentrung Jatimenok mengajukan pertanyaan mendasar: Apakah seni pertunjukan ini hanya akan disimpan sebagai ingatan, atau dihidupkan sebagai pengetahuan yang terus diwariskan?
Membaca kentrung berarti membuka kembali dialog antara masa lalu dan masa kini.
Merawatnya berarti memastikan seni ini tidak berhenti sebagai arsip, tetapi tetap berbicara—pelan namun bermakna—di tengah zaman yang kian bising.
Penulis:
Dr Yulianah Prihatin MPd, Dosen Tetap S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang
Editor : Ainul Hafidz