CULTURE shock di awal mondok menjadi ujian berat dalam hidupku.
Jauh dari keluarga serta menyesuaikan diri dengan aturan pesantren, serta jadwal padat membuatku sempat merasa ingin menyerah.
Namun, seiring berjalannya waktu dan kesabaran mengajarkanku bahwa semua itu adalah proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Perlahan aku mulai beradaptasi, belajar menikmati kebersamaan dengan teman-teman, saling membantu dalam kegiatan pondok, serta menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.
Dari sanalah aku mulai aktif di berbagai kegiatan santri hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua OSIS.
Menjadi pemimpin bukanlah hal mudah. Aku belajar bagaimana mengatur waktu antara belajar dan organisasi, mendengarkan aspirasi teman-teman, serta menjadi contoh dalam sikap dan kedisiplinan.
Banyak rintangan yang kuhadapi, mulai dari perbedaan pendapat hingga tekanan tanggung jawab.
Namun semua itu justru membentuk mental kepemimpinanku.
Dari pengalaman mondok dan menjadi Ketua OSIS, aku belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pengabdian.
Seorang pemimpin harus bisa melayani, mengayomi, dan memberi inspirasi.
Kini aku bersyukur pernah melewati masa-masa sulit di pondok, karena dari sanalah aku belajar arti kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab yang sejati.
Oleh Muhammad A'zham El-Ghifari, Kelas XI-03 SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT di bawah naungan Yayasan Pesantren Darul Ulum Jombang
Editor : Ainul Hafidz