Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Tim PkM Ubaya Angkat UMKM Bambu Difabel Jombang, Produksi Lebih Cepat dan Penjualan Meningkat

Achmad RW • Senin, 17 November 2025 | 14:03 WIB

 

MODERN: Tim PkM BIMA Ubaya bersama Sukardi, perajin difabel di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Jombang.
MODERN: Tim PkM BIMA Ubaya bersama Sukardi, perajin difabel di Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Jombang.

JombangBanget.id – Keterbatasan fisik tak menghalangi Sukardi, perajin bambu dari Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Jombang, berkarya.

Berkat bantuan alat Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) BIMA Universitas Surabaya (Ubaya), kini produksi ukiran bambu lebih modern sekaligus penjualannya menembus pasar digital.

Duduk di atas kursi roda, Sukardi tampak fokus di depan laptop.

Dengan tangan yang cekatan, ia menggerakkan kursor dan memberi perintah pada mesin laser untuk mengukir pola rumit di atas bambu.

Dari tangan dinginnya, lahir berbagai produk bambu artistik di bawah label Devan Bamboo.

Pekerjaan itu bukti nyata keterbatasan fisik tak menghalangi seseorang untuk berkreasi.

”Dulu, untuk memotong satu lonjor bambu besar saja bisa seharian. Kalau ada pesanan ukiran nama, saya pakai solder satu per satu. Tangannya pegal, hasilnya lama, kadang tidak rapi,” kenang Sukardi sambil tersenyum.

Sejak memulai usahanya pada 2019, Sukardi menghadapi berbagai keterbatasan.

Meski produktivitasnya meningkat, pendapatan sempat menurun karena proses manual yang memakan waktu dan tenaga.

Kondisi itu berubah ketika bantuan datang dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) BIMA Universitas Surabaya (Ubaya).

”Kami datang bukan sekadar membawa alat, melainkan solusi. Melalui program hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, kami menghadirkan tiga mesin baru untuk Sukardi: mesin seset, mesin pemotong bambu, dan mesin Laser Cutting CO₂,” terang Dian Prianka, ketua tim PkN BIMA sekaligus Dosen Fakultas Industri Kreatif - Universitas Surabaya.

Namun yang membuat proyek ini istimewa bukan sekadar teknologinya.

Tim yang beranggotakan Ardeliah Tjiptawan dan Adhika Putra Wicaksana itu juga membuat alat tersebut bisa disesuaikan dengan penggunanya.

”Kami modifikasi tinggi meja mesin laser agar sejajar dengan kursi roda Pak Sukardi. Teknologi seharusnya menyesuaikan manusia, bukan sebaliknya,” lanjut Dian.

Dengan alat itu, proses grafir yang dulu memakan waktu dua hingga tiga hari, kini selesai dalam hitungan menit dengan hasil presisi.

Sukardi juga mendapat pelatihan desain menggunakan CorelDRAW dan teknik pemasaran digital.

Hasilnya mencengangkan. Lebih dari separuh produk Devan Bamboo kini tampil elegan dengan ukiran laser bernuansa modern.

Penjualan ikut terdongkrak seiring peningkatan jangkauan media sosial hingga 244 persen. Pasar yang semula lokal kini mulai merambah pembeli dari luar daerah.

”Sekarang banyak pesanan lewat Instagram. Saya tidak menyangka bisa sejauh ini,” pungkas Sukardi. (riz/fid)

Editor : Ainul Hafidz
#Perak #difabel #bambu #ubaya #teknologi laser wajah #penjualan #universitas surabaya #Jombang #perajin bambu #Tim PKM