Tentang Mimpi yang Belum Sepenuhnya Terwujud di Vietnam dan Indonesia
Indonesia dan Vietnam, merupakan dua negeri dengan kisah dan sejarah berbeda. Ternyata menyimpan satu kesamaan rasa dan jiwa semangat untuk bermimpi.
Baik melalui kisah anak-anak Belitung dalam Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Maupun kisah anak-anak Hue dalam Tuoi Tho Du Doi (Masa Kecil yang Sengit) karya Phùng Quán.
Kita diajak menelusuri perjuangan anak-anak kecil yang mempertahankan harapan di tengah keterbatasan dan penderitaan.
Kedua karya sama-sama menggambarkan kisah perjuangan. Dalam Laskar Pelangi, perjuangan terjadi di medan sosial, di tengah kemiskinan merampas hak anak-anak untuk belajar.
Sementara Tuoi Tho Du Doi menggambarkan perjuangan di medan perang, tempat nyawa taruhannya. Meski berbeda latar, keduanya menonjolkan semangat juang anak-anak yang tak pernah padam dalam meraih cita-cita.
Dalam Laskar Pelangi, Lintang menjadi simbol kegigihan dan semangat belajar tanpa henti. Setiap hari, ia bersepeda puluhan kilometer ke sekolah, menantang bahaya, bahkan buaya, demi menuntut ilmu.
Namun kisahnya berakhir pilu. Karena kemiskinan, anak jenius matematika itu harus berhenti sekolah dan mengubur mimpinya.
Meski begitu, sosok Lintang tetap hidup dalam ingatan teman-temannya dan para pembaca, sebagai lambang keteguhan hati anak bangsa yang menginspirasi, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di Vietnam.
Tokoh Mung dalam Tuoi Tho Du Doi menggambarkan sosok anak pemberani, polos, dan penuh bakti kepada ibunya.
Ia bermimpi kelak Vietnam merdeka, akan ada dokter yang bisa menolong orang miskin seperti sang ibu.
Dengan semangat itu, Mung rela menghadapi bahaya, menjadi penunjuk jalan dan kurir bagi pejuang di medan perang.
Namun nasib tragis menimpanya. Meski berjasa besar bagi perjuangan, ia justru dituduh sebagai pengkhianat dan gugur saat menjalankan tugas terakhirnya.
Kisahnya meninggalkan kesan mendalam dalam hati pembaca Vietnam tentang ketulusan dan pengorbanan di usia belia.
Baik Lintang maupun Mung sama-sama mewakili generasi muda yang memiliki impian di tengah keterbatasan yang ada.
Anak-anak Belitung bermimpi untuk meraih pendidikan dan masa depan yang lebih baik, sementara anak-anak Hue bermimpi tentang kemerdekaan bangsanya.
Kedua impian itu memang berbeda wujud, tetapi sama-sama lahir dari keberanian untuk berharap di tengah penderitaan.
Kedua kisah ini juga menggambarkan bagaimana anak-anak menjadi simbol kekuatan moral dalam lingkungan masyarakat.
Di tengah dunia orang dewasa yang keras, penuh dengan realitas sosial, perang, dan ketidakadilan, anak-anak justru berusaha keras menumbuhkan jiwa keberanian dengan hati yang tulus.
Mereka tidak menunggu keadaan berubah, mereka berjuang dengan semangat serta berani mengambil bagian di dalamnya dengan cara mereka sendiri.
Lintang dengan sepedanya yang ringkih, dan Mung dengan langkah kecilnya di medan perang, sama-sama menggerakkan dunia yang besar dengan keyakinan yang sederhana.
Kedua novel ini juga memperlihatkan pentingnya nilai kemanusiaan lintas budaya.
Dari kisah Belitung hingga Hue, dari Lintang hingga Mung, keduanya mengajarkan bahwa impian bukan sekadar milik mereka yang beruntung, tetapi milik semua orang yang berani berharap dan miliki semua orang yang berani berjuang.
Kisah-kisah ini menembus batas geografis, politik, dan bahasa karena pada dasarnya, setiap manusia pernah menjadi anak kecil yang bermimpi.
Mimpi, sebagaimana digambarkan dalam dua karya ini, bukan selalu harus terwujud sepenuhnya agar bermakna.
Terkadang, justru perjalanan untuk mewujudkan mimpi itulah yang memberi nilai pada kehidupan. Lintang mungkin tak sempat menjadi ilmuwan, dan Mung mungkin tak sempat menyaksikan kemerdekaan yang ia perjuangkan, tetapi keduanya telah mengukir sesuatu yang jauh lebih besar yaitu, “Inspirasi tentang keberanian untuk bermimpi”.
Pada akhirnya, Laskar Pelangi dan Tuoi Tho Du Doi bukan hanya sekadar kisah tentang masa kecil. Keduanya refleksi tentang rasa perjuangan manusia yang tak pernah padam sampai kapanpun.
Dari dua dunia yang berbeda, Belitung yang miskin dan Hue yang dilanda perang mengalun pesan yang sama: “Tak Ada Mimpi yang Sia-Sia, Meski Belum Sepenuhnya Terwujud”
Penulis:
Tran Thanh Vy
Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang