JombangBanget.id – Tidak semua sekolah di Jombang ikut serta dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat.
Salah satunya adalah Yayasan Pendidikan SD Islam (SDI) Roushon Fikr yang berlokasi di Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang.
Sekolah ini memilih untuk tidak ikut menerima program MBG karena sejak lama telah memiliki program makan siang sendiri bagi para siswa.
Pengelolaan dilakukan secara mandiri melalui dapur sekolah, dengan dukungan penuh dari yayasan dan para wali murid.
Kepala SD Islam Roushon Fikr, Langgeng Arif Budi Setiyawan, menuturkan program makan siang di sekolahnya sudah berjalan cukup lama dengan pengelolaan dapur di dalam sekolah.
”Sementara karena kemarin sudah dari yayasan didukung juga wali siswa apa yang dilakukan di Roushon Fikr sudah bagus, sudah memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Kemarin lembaga memutuskan sebaiknya (MBG) diberikan ke yang lebih membutuhkan dulu,” ujarnya saat ditemui di sekolah, Jumat (3/10).
Program makan bergizi di sekolah ini sudah dirintis jauh sebelum program MBG diluncurkan pemerintah.
Dapur sekolah hingga kini tetap aktif, menyajikan makanan bagi siswa setiap jam istirahat siang setelah pelaksanaan salat Zuhur.
”Dengan sistem yang sudah berjalan baik, pihak sekolah mempersilakan penyedia layanan MBG (SPPG) untuk memprioritaskan lembaga lain, terutam sekolah-sekolah yang perlu diprioritaskan,” tegasnya.
Langgeng juga mengungkapkan banyak pihak telah mengajukan kemitraan untuk pemenuhan makanan, termasuk melalui pendataan siswa oleh aparat keamanan.
Namun, semua tawaran tersebut belum dapat diterima.
Baca Juga: Ramai Kasus Keracunan, Dua Yayasan Pendidikan di Jombang Tolak Program MBG
”Sekolah tetap memilih menjalankan program internal yang selama ini sudah berjalan baik,” tegasnya.
Dalam hal penyusunan menu, sekolah memiliki pola tersendiri.
”Selama ini pihaknya mengatur kebutuhan menu bagi anak-anak dengan cara merancang menu selama seminggu sekali. Setiap menu yang disiapkan sekolah dikirim ke wali siswa sebelum disetorkan ke yayasan untuk proses eksekusi. Jika sudah disetujui langsung kami siapkan menu melalui dapur yang ada di dalam sekolah,” jelasnya.
Ia berharap, pemerintah tetap mengedepankan asas pemerataan dalam pelaksanaan MBG.
”Kami berpikir skala prioritas harus menjadi perhatian pemerintah untuk program MBG ini, terutama bagi sekolah yang belum memiliki program makan siang di sekolah,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Roushon Fikr Jombang, Didin A. Sholahuddin, menegaskan pihaknya memilih tidak ikut menerima bantuan tersebut karena Yayasan Roushon Fikr sudah memiliki sistem penyediaan makan mandiri.
Di lingkungan yayasan, telah beroperasi dapur khusus dengan 17 pegawai yang setiap harinya memasak hingga 1.300 porsi makanan untuk siswa.
”Iya, kami menolak MBG, jika itu harus merumahkan pegawai yang sudah berkerja di RF. Dan merubah jadwal dan menu makan yang telah kami tetapkan,” ujar Didin.
Menurutnya, selama ini Roushon Fikr mampu membiayai sendiri kebutuhan makan siswa.
Karena itu, program MBG sebaiknya lebih diprioritaskan untuk sekolah-sekolah yang betul-betul membutuhkan.
”Akan lebih baik prioritas awal dari program ini untuk sekolah-sekolah di pelosok desa, yang siswanya sangat membutuhkan,” imbuhnya. (ang/naz)
Editor : Ainul Hafidz