MINGGU (14/09) saat pengajian takhasus di Pesantren Tebuireng Putri, Ustad Naufal Afif, menerangkan tentang dampak perubahan zaman terhadap manusia.
’’Zaman susah menghasilkan orang kuat. Oang kuat menghasilkan zaman mudah. Zaman mudah menghasilkan orang lemah. Dan orang lemah menghasilkan zaman susah,’’ tuturnya.
Orang lemah yang dimaksud, generasi stoberi. Seperti buah stroberi yang tampak menarik dan manis, namun sangat rapuh dan mudah rusak bila ditekan.
Generasi muda yang dianggap memiliki potensi kreatif dan inovatif, tapi kurang memiliki ketahanan mental atau daya juang dalam menghadapi tantangan dan tekanan.
’’Sok kuat, tapi disakiti sedikit langsung hancur,’’ ucapnya.
Di pesantren kita dididik agar tidak menjadi generasi stroberi.
Pertama, dilatih sabar. Tangguh menghadapi cobaan, tidak mudah mengeluh atau menyerah. Mendorong untuk terus mencoba meski gagal berkali-kali.
Kedua, dibiasakan tawakkal, berserah diri setelah berusaha. Ini menghindarkan dari kecemasan berlebih.
Membentuk mental yang tenang dan realistis dalam menghadapi hasil.
Ketiga, mendorong semangat belajar seumur hidup. Keempat, berjuang melawan hawa nafsu.
Mengendalikan diri dari kemalasan, emosi, dan kecanduan. Menghindari hidup yang manja dan instan. Membangun disiplin diri dan pengendalian emosi.
Baca Juga: Student Journalism: Nuansa Kemerdekaan di Al Ummah
Kelima, tanggung Jawab dan amanah. Membentuk generasi yang tidak lari dari tanggung jawab. Melatih anak muda agar bisa dipercaya.
Oleh Queensya Aqila, Kelas 9-C SMP A Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang
Editor : Ainul Hafidz