KAMIS (12/6) di rumah kecil kami di Dusun Sumberwinong Desa Kedungpari, Mojowarno terdengar doa dan dukungan penuh cinta dari ibuku, Tri MurtiNingsih.
Doa itu mengiringi langkahku menuju ujian Semester Akhir Tahun (SAT) di MTsN 9 Jombang.
Setiap hari, ibu selalu memberiku semangat dan doa sebelum berangkat sekolah. Namun, pagi itu, doanya terasa begitu menyentuh.
’’Semangat ya, Nak! Kerjakan ujian kenaikan kelasmu dengan sungguh-sungguh dan jujur. Semoga Allah selalu memudahkanmu dalam mengerjakan soal ujianmu. Kerjakan dengan sportif dan semoga kamu mendapatkan nilai yang membahagiakanmu dan kami,’’ ungkapnya.
Kalimat-kalimat itu seakan membalutku dengan kehangatan, mengusir rasa cemas dan menggantikannya dengan tekad bulat.
Hatiku bergetar. Doa tulus ibu menjadi suntikan energi yang luar biasa. Aku termotivasi untuk mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin.
Bukan hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk membalas kasih sayang dan doa restu beliau.
Ujian SAT bukan sekadar penentu kenaikan kelas, melainkan bukti nyata usahaku untuk membanggakan ibu.
Dari doa dan dukungannya, terpatri tekad untuk meraih hasil terbaik. Sebuah prestasi yang akan kusematkan sebagai hadiah terindah untuk ibu tercinta.
Ini menjadi pengingat betapa besar arti dukungan orang tua dalam perjalanan meraih kesuksesan.
Oleh Pungki IndriyaNingsih, Kelas 8-C MTsN 9 Jombang di Tanjunganom, Diwek, Jombang
Editor : Ainul Hafidz