DALAM kehidupan, kita sebagai manusia tidak akan luput dari segala ujian dan cobaan.
Serta berbagai lika-liku kehidupan. Baik dari kisah yang membahagiakan, memilukan, bahkan sampai kisah yang memalukan.
Semua perjalanan itu akan menjadi pengalaman berharga. Serta jalan menuju pendewasaan bagi orang-orang yang mengambil pelajaran.
Dalam proses pembelajaran dan pendewasaan, kita tidaklah cukup hanya mengandalkan pengalaman pribadi.
Karena umur manusia terlalu singkat untuk mengalami semua bentuk kesalahan, keberhasilan, kehilangan atau ujian dalam satu kehidupan.
Maka, mengambil pelajaran dari perjalanan orang lain adalah salah satu cara terbaik untuk menghindari kesedihan dan luka, yang seharusnya tak perlu kita alami.
Alquran mengisyaratkan hal ini dalam surah An-Nur ayat 34:
’’Dan sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penjelasan, dan contoh-contoh dari orang-orang terdahulu sebelum kamu, dan pelajaran bagi orang-orang bertakwa.’’
Ibnu’Atthiyah menafsirkan ayat tersebut dalam tafsirnya almuharraralwajiz: ’’Dan apa yang telah diberikan kepada mereka berupa perumpamaan dari umat-umat terdahulu, agar mereka dapat berhati-hati dari apa yang telah menimpa orang-orang tersebut, dan juga pada apa yang telah disebutkan kepada mereka berupa nasihat-nasihat.’’
Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kita diajak untuk tidak buta terhadap sejarah. Tidak tuli terhadap hikmah. Dan tidak sombong dalam memaknai ujian.
Karena pada akhirnya, belajar dari pengalaman pribadi saja tidak cukup.
Baca Juga: Pemdes Jatipelem Diwek Jombang Rutin Gelar Sedekah Desa Tiap Bulan Suro, Dipusatkan di Punden Ini
Lebih dari itu kita perlu membuka diri terhadap pelajaran dari luar diri kita: Dari cerita orang lain, dari nasihat yang tulus dan dari sudut pandang yang berbeda dengan milik kita.
Sebagai penutup, ada pepatah Arab penting yang perlu kita renungkan: ’’Man lam yatta’idhbimansabaqahu, itta’adha bihi manba’dahu.’’
(Barang siapa yang tidak mengambil pelajaran dari orang-orang sebelumnya, maka dia akan menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya.)
Penulis:
Ahmad Fayroz Abadi, Mahasiswa Jurusan Ushuluddin, Yarmouk University, Yordania
Editor : Ainul Hafidz