KURIKULUM merupakan salah satu komponen yang penting dalam pendidikan.
Tanpa kurikulum, pendidikan tidak memiliki arah dan tujuan.
Setelah kemerdekaan, kurikulum yang pertama disebut dengan ”Rentjana Peladjaran 1947” dan pada tahun 2025 saat ini disebut ”Kurikulum Nasional” yang sebelumnya dengan sebutan ”Kurikulum Merdeka”.
Kurikulum Nasional yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini dengan pendekatan pembelajaran Deep Learning yang selanjutnya disebut dengan ”Pembelajaran Mendalam”.
Pendekatan ini memiliki 3 (tiga) pilar utama yaitu. Mindful Learning, Meaningful Learning dan Joyful Learning.
Artinya bahwa para murid dalam mengikuti pembelajaran atau setelah pembelajaran memiliki kesan yang mendalam.
Pertama, sadar akan pentingnya mempelajari sesuatu.
Kedua, murid merasa bahwa belajar itu ada makna ada manfaatnya, dan.
Ketiga, murid senang dalam belajar.
Selanjutnya, Kementerian Agama pada tahun 2025 berinovasi dengan ”Kurikulum Cinta” yang saat ini masih piloting di beberapa madrasah plat merah.
Kurikulum cinta adalah kurikulum yang berbasis senang dan sayang.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa saat ini di masyarakat terjadi dehumanisasi, maka harus ada prinsip humanity is all one, jadi peran pemberdayaan umat difokuskan pada basis kemanusiaan dan harmoni kehidupan yang keduanya dieratkan dengan dasar cinta, sehingga di madrasah digagas kurikulum cinta ini sebagai salah satu solusinya.
Seperti halnya deep learning pada kurikulum nasional yaitu hanya sebuah pendekatan pembelajaran, bukan mengganti komponen-komponen kurikulum.
Pula, love learning dalam kurikulum cinta bukanlah mata pelajaran baru, namun sebuah pendekatan pembelajaran yang integratif dan sistematif pada mata pelajaran-mata pelajaran yang ada secara ramah, humanis, nasionalis, dan peduli lingkungan.
Sesungguhnya antara kurikulum nasional dengan kurikulum cinta maupun deep learning dengan love learning, keduanya memperkaya konsep pendidikan di Indonesia, namun di satu sisi seakan terjadi perbedaan bahkan persaingan.
Akhirnya masyarakat tinggal pilih untuk putra-putrinya belajar dimana. Nasrun Minallah. (*)
Penulis:
Hadi Nur Rakhmad
Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Jombang
Editor : Ainul Hafidz