PERKEMBANGAN teknologi digital membawa dampak signifikan pada aspek sosial, budaya, dan politik di Indonesia.
Arus informasi yang cepat menuntut generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk mampu menyaring informasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan, khususnya Pancasila dan demokrasi, di ruang digital.
Pancasila sebagai ideologi negara tidak hanya bersifat normatif, tetapi menjadi panduan dalam kehidupan berbangsa yang kini juga berlangsung secara daring.
Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran vital dalam menjaga nilai Pancasila dari pengaruh negatif dunia digital.
Melalui pemahaman literasi digital, promosi nilai-nilai kebangsaan, dan keterlibatan dalam diskusi publik, mahasiswa dapat berperan sebagai penjaga demokrasi sekaligus pembuat konten edukatif yang bermanfaat.
Namun, mereka menghadapi berbagai tantangan, seperti banjirnya informasi yang tidak jelas kebenarannya, penyebaran berita palsu, serta tekanan sosial di media sosial yang bisa membuat mereka ragu untuk menyampaikan pendapat.
Meski begitu, mahasiswa yang memiliki pengetahuan dan karakter yang kuat tetap bisa memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk membangun masyarakat, bukan justru merusaknya.
Hasil survei kami terhadap 53 mahasiswa menunjukkan bahwa 67,9% menyatakan nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk diterapkan di era digital.
Lebih dari separuh responden mengaku sering menerapkan nilai seperti gotong royong, toleransi, dan keadilan dalam aktivitas daring, serta 77,4% aktif membagikan konten edukatif bertema kebangsaan.
Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa sadar akan pentingnya literasi kebangsaan dalam menghadapi tantangan zaman.
Namun, mereka juga menghadapi hambatan. Sebanyak 62,3% menyebut hoaks dan konten provokatif sebagai tantangan utama dalam menjaga nilai Pancasila di media digital.
Baca Juga: Selamat, 255 Mahasiswa Universitas PGRI Jombang Diwisuda, Begini Pesan Wabup Salmanudin Yazid
Sementara 58,5% responden merasa ragu menyuarakan pendapat tentang isu kebangsaan karena takut dihakimi.
Ketakutan ini menunjukkan masih rendahnya keberanian berekspresi yang sehat di ruang digital.
Peran mahasiswa pun mengalami transformasi. Jika dulu mahasiswa menyuarakan idealisme melalui aksi fisik di kampus atau jalanan, kini peran itu meluas ke platform digital.
Mahasiswa tak lagi sekadar konsumen informasi, tetapi menjadi produsen pengetahuan, penggerak opini publik, dan penyebar nilai-nilai positif di media sosial, blog, podcast, hingga kanal video.
Mereka memiliki potensi besar untuk membentuk opini publik yang cerdas, toleran, dan beretika.
Dalam konteks demokrasi, mahasiswa juga menjadi penjaga ruang publik yang sehat. Mereka dapat menggunakan ruang digital untuk menyuarakan aspirasi politik, menyebarkan nilai toleransi, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam isu-isu nasional.
Namun, kebebasan berekspresi itu harus diimbangi dengan etika digital dan tanggung jawab moral agar tidak terjebak dalam penyebaran kebencian atau polarisasi.
Strategi yang dinilai efektif oleh responden untuk menjaga nilai kebangsaan antara lain melalui kegiatan kampus yang mengintegrasikan nasionalisme dan teknologi (49,1%), pendidikan digital berbasis Pancasila (30,2%), serta pelatihan literasi media.
Ini menunjukkan pentingnya peran institusi pendidikan dalam membekali mahasiswa agar mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya paham teknologi, tetapi juga berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa. Kolaborasi lintas sektor juga dibutuhkan.
Pemerintah, kampus, dan masyarakat sipil perlu bersinergi dalam menyediakan ruang dan dukungan bagi mahasiswa yang ingin berkontribusi melalui karya digital positif.
Pelatihan, pendampingan, bahkan dukungan pendanaan konten edukatif bisa menjadi insentif yang mendorong keterlibatan mahasiswa secara lebih luas.
Di era disrupsi informasi, mahasiswa memiliki misi besar: menjadi penjaga nilai Pancasila dan pelaku demokrasi yang aktif, bukan reaktif.
Mereka harus mampu menjadikan teknologi sebagai sarana untuk membangun bangsa yang berdaulat secara ideologis, bukan sekadar sebagai alat hiburan atau konsumsi.
Generasi ini harus menjawab tantangan zaman dengan tetap memegang teguh identitas nasional.
Melalui literasi digital, pendidikan karakter, dan keberanian bersuara di ruang maya, mahasiswa dapat menjadi penggerak perubahan yang kreatif, inklusif, dan berorientasi pada masa depan bangsa.
Di sinilah letak misi baru mahasiswa Indonesia: membangun bangsa di dunia digital tanpa kehilangan akar ideologisnya.
Penulis:
Haniatun Nahdliyyah, Maya Erlisa Putri, Ananda Irdatul Agustin, Elka Aprianty, Awal Edwindi Saputra Raka Siwi, Shahib Ariel Mahruzi, Zaenal Abidin, S.Sos.,M.Si.
Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Ainul Hafidz