JombangBanget.id - Final Lomba Bertutur yang diadakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jombang dilaksanakan mulai 23-24 Juni.
Lomba bertutur diadakan sebagai Upaya menumbuhkan minat baca juga melatih keterampilan literasi.
”Melalui lomba ini kami berharap dapar menanamkan kecintaan terhadap budaya dan nilai-nilai luhur bangsa melalui cerita-cerita yang inspiratif,” ungkap Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jombang, Sri Surjati.
Bertutur bukan sekadar bercerita, tetapi juga tentang menyampaikan pesan membangun kepercayaan diri, dan melatih kemampuan berkomunikasi secara efektif sejak dini.
”Kami sangat mengapresiasi antusiasme seluruh sekolah, guru, dan tentunya para siswa-siswi yang telah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba ini. Kami percaya bahwa dari panggung kecil ini akan lahir para generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga unggul dalam karakter dan kemampuan literasi,” ungkapnya.
Lomba bertutur juga diharapkan dapat mendorong lebih banyak sekolah dan perpustakaan untuk aktif menciptakan ruang kreatif yang menyenangkan, yang mampu mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh.
Lomba bertutur tahun 2025 diikuti 38 peserta. Satu peserta dari SDIT Anak Negeri Sumobito mengundurkan diri.
Final Lomba Bertutur dibuka secara langsung Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jombang Sri Surjati. Penampilan peserta dibagi dalam dua gelombang.
Hari pertama (23/6), diberikan kesempatan pada peserta nomor urut 1-18. Dilanjutkan penampilan pada hari kedua, peserta mulai nomor urut 19-38.
Sebelum tampil, para peserta diberikan arahan dan teknik agar masing-masing bisa menunjukkan penampilan terbaik.
Anggota dewan juri memiliki kompetensi di bidangnya.
Baca Juga: Pendaftaran Ditutup, 38 Peserta Siap Bersaing di Lomba Bertutur Disperpusip Jombang
Di antaranya, Sub Koordinator Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang Anom Antono, Imam Gozali, pekerja seni, Zakaria Ahmad Efendi atau Kak Zaki, Pendongeng Jawa Timur.
Ketua Dewan Kesenian Jombang Nanda Sukmana, dan Dwi Novitasari, praktisi pendidikan dan pekerja seni.
Masing-masing siswa diberikan waktu selama 10 menit untuk tampil.
Para juri juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta, mulai dari alasan pemilihan cerita, juga tentang nilai yang dapat diambil dari cerita yang disampaikan.
”Penampilan lebih menarik, karena peserta boleh membawa properti-properti sederhana,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Ainul Hafidz