Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Dosen Unipdu Jombang: Gaya Hidup Sederhana di Era E-Commerce

Anggi Fridianto • Rabu, 19 Maret 2025 | 14:43 WIB
INSPIRATIF: Dekan Fakultas Bisnis, Bahasa dan Pendidikan Unipdu, Dr Wiwik Maryati SSos MSM, saat menjadi narasumber kajian Ramadan, Selasa (18/3).
INSPIRATIF: Dekan Fakultas Bisnis, Bahasa dan Pendidikan Unipdu, Dr Wiwik Maryati SSos MSM, saat menjadi narasumber kajian Ramadan, Selasa (18/3).

Jombangbanget.id - Dekan Fakultas Bisnis, Bahasa dan Pendidikan Unipdu, Dr Wiwik Maryati SSos MSM, mengajak umat muslim khususnya civitas akademik Unipdu untuk bijak dalam mengelola keuangan khususnya di era perang dagang e-commerce.

’’Islam mengajarkan kita untuk bijak dan tidak berlebih-lebihan dalam hal pengeluaran keuangan,’’ katanya saat menjadi narasumber di Kajian Ramadan Unipdu di Islamic Center Unipdu, Selasa (18/3).

Gaya hidup masyarakat secara umum telah mengalami perubahan signifikan. Namun, dalam Islam, umat diajarkan untuk menjalani gaya hidup sederhana.

’’Dari Frugal living (gaya hidup hemat dan bijak) saya menggarisbawahi, kita sebagai umat Islam dianjurkan untuk menjalani gaya hidup yang menekankan pengelolaan keuangan secara bijak dan hemat, dengan memprioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan serta menghindari pemborosan,’’ tambahnya.

Sebuah bisnis bisa dikatakan berhasil apabila mampu memikat hati konsumen dalam membeli produk.

Di era perang sale ini, para produsen dan pengusaha saling adu strategi untuk memikat hati konsumen.

’’Berbagai strategi dilakukan mulai memberikan diskon, promo dan bundling harga,’’ terangnya.

Dengan gebrakan itu, tentu membuat konsumen tertarik dan berminat untuk membeli barang yang diinginkan.

’’Kita sebagai konsumen jangan sampai mau dijadikan obyek aktivitas. Konsumen harus punya strategi mengendalikan diri,’’ urainya.

Adanya promo hingga diskon besar-besaran, telah melahirkan perilaku baru di kehidupan saat ini.

Pertama, compulsive buying atau bisa diartikan kondisi psikologis di mana seseorang memiliki dorongan kuat dan tidak terkendali untuk berbelanja.

Kedua, impulsive buying, perilaku membeli sesuatu secara tiba-tiba tanpa pertimbangan matang.

’’Apalagi menjelang Lebaran ini, utamanya kaum hawa, banyak yang terkecoh dengan diskon dan promo.

Tentu dalam Islam hal ini tidak dianjurkan karena masuk dalam pemborosan,’’ paparnya.

Fenomena compulsive buying dan impulsive buying tersebut gencar menyerang hati manusia.

Sehingga berdampak pada keinginan kuat untuk meraih kehendak yang diinginkan.

’’Kita harus mengendalikan diri dari setiap penawaran besar-besaran yang dilakukan produsen,’’ jelasnya.

Ada beberapa tindakan untuk mencegah pemborosan.

Pertama, punya perencanaan tujuan keuangan. Misalnya menerapkan sistem 50, 30, 20.

Yakni 50 persen keuangan disediakan untuk kebutuhan primer, 30 persen untuk kebutuhan sekunder dan 20 persen untuk investasi.

Kedua, harus bisa membedakan keinginan dan kebutuhan. Ketiga, dalam berbelanja boleh mengambil promo, diskon hingga bundling untuk menekan harga dengan mempertimbangkan skala prioritas. 

Keempat, menentukan kualitas dibandingkan kuantitas. ’’Frugal living pada sejatinya bukan membatasi pengeluaran, tapi lebih ke arah bijak dalam pengeluaran,’’ ungkapnya. (ang/jif)

 

Editor : Ainul Hafidz
#dosen #Frugal Living #unipdu #perang dagang #Jombang