SEORANG ayah duduk bersama anaknya yang masih SD. Ia menggenggam sebuah kalkulator dan bertanya, ’’Nak, kalau dalam sehari ada 24 jam, dan kita berpuasa selama 30 hari, berapa total waktu yang kita jalani selama Ramadan?’’
’’720 jam, Yah!’’
Jika kita hidup 60 tahun, total Ramadan yang kita jalani 1.800 hari atau 4 tahun 11 bulan.
Baca Juga: Kajian Ramadan Unipdu Jombang, Gus Awis: Tiga Anggota Tubuh Ini adalah Kunci Ilmu
Ramadan adalah bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam. Bulan penuh berkah, ampunan, dan kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah.
Namun, tanpa kita sadari, Ramadan sering kali berlalu begitu cepat. Kita memulainya dengan semangat tinggi, tetapi di pertengahan bulan, antusiasme mulai mengendur.
Tahu-tahu, kita sudah berada di penghujung bulan, menyesali waktu yang terbuang sia-sia.
Jika dalam sehari kita tidur 8 jam, maka dalam sebulan kita menghabiskan 240 jam untuk tidur.
Lalu, bekerja atau sekolah rata-rata 4 jam sehari, sehingga dalam sebulan 120 jam lagi.
Makan sahur dan berbuka hanya 1 jam per hari, sehingga totalnya 30 jam sebulan.
Sekarang, berapa banyak waktu yang kita sisakan untuk ibadah utama seperti salat, membaca Alquran, dan berzikir?
Rata-rata kita hanya mengalokasikan 1 jam per hari untuk ibadah murni, yang berarti hanya 30 jam dalam sebulan.
Baca Juga: Menjaga Jejak Ramadan di Setiap Langkah Kehidupan
Bagaimana dengan waktu yang dihabiskan untuk scrolling media sosial, menonton TV, atau sekadar mengobrol tanpa tujuan?
Jika kita menghabiskan 10 jam sehari, maka dalam sebulan jumlahnya 300 jam.
Dari total 720 jam yang diberikan Ramadan, kita hanya benar-benar menggunakan 30 jam untuk beribadah.
Bandingkan dengan waktu bersama gadget kita yang sepuluh kali lipat lebih banyak!
Jangan sampai kita menjadi orang rugi seperti diingatkan dalam QS Al Asr 1-3.
Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus, tetapi juga bulan untuk memperbaiki diri.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari)
Jika kita benar-benar ingin mencari keberkahan Ramadan, kita bisa mengatur waktu dengan lebih baik.
Bayangkan, jika kita mengganti 1 jam scrolling media sosial dengan membaca Alquran, atau 1 jam tidur siang dengan berzikir dan berdoa.
Bayangkan jika kita bisa memaksimalkan 10 malam terakhir Ramadan untuk meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Jika kita mendapatkan Lailatul Qadar hanya satu kali dalam hidup, itu berarti kita telah memperoleh pahala beribadah selama 83 tahun lebih dalam satu malam saja!
Baca Juga: Sedang Peralihan Musim, Begini Cara Warga Jombang Jalani Puasa Ramadan di Jerman
Penulis:
Kaseri SPd MM MPd
Guru Matematika SMA Negeri 1 Jombang
Narasumber Berbagi Praktik Baik Kemendikbud RI
Pengawas Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum
Editor : Ainul Hafidz