Hidup tenang adalah dambaan semua orang. Kita bekerja, beribadah, bahkan bersosialita, semua dalam rangka mencari ketenangan jiwa dan raga.
Dalam Islam, ketenangan jiwa dapat diraih melalui kedekatan dengan Alquran, dan Ramadan merupakan momentum istimewa untuk menjalin kedekatan tersebut.
Menengok sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Surga merindukan empat golongan: orang yang membaca Alquran, menjaga lisan (ucapan), memberi makan orang lapar, dan puasa di bulan Ramadan”, (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Golongan pertama adalah orang yang gemar membaca Alquran. Bacalah Alquran kapanpun dan dimanapun.
Dalam setiap huruf yang dibaca terkandung kebaikan-kebaikan, baik menyangkut kehidupan dunia maupun akhirat.
Tidak sia-sia orang yang selalu berusaha meluangkan waktu untuk membaca Alquran.
Di dunia, mereka selamat karena perkataannya terarah, dan nanti ketika meninggal dunia pun bacaan itu akan menemaninya di alam barzah.
Dalam Alquran juga disebutkan bahwa sebaik-baik orang adalah mereka yang mau belajar Alquran dan mengajarkannya.
Mereka akan mendapat pahala dari orang yang membaca Alquran tersebut tanpa mengurangi pahala si pembacanya karena ilmu yang telah diajarkan kepada orang lain.
Tahapan membaca Alquran untuk mencapai ketenangan hidup tidak hanya membaca secara harfiah fasih, benar dan lancar. Lebih dari itu, diperlukan upaya untuk mempelajari maksud dan kandungannya lalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, segala tindakan kita tidak bertentangan dengan Alquran, sehingga hidup menjadi terarah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan keabadian akhirat.
Baca Juga: Cara agar Ramadan Lebih Bermakna
Inilah esensi dari hidup tenang bersama Alquran.
Golongan kedua yang dirindukan surga adalah mereka yang menjaga lisan.
“Mulutmu harimaumu,” begitulah pepatah mengatakan. Keselamatan seseorang tergantung bagaimana dia bisa menjaga lisannya.
Dalam bulan Ramadan, pengendalian lisan menjadi aspek penting dari ibadah puasa. Menjaga lisan berarti berbicara yang baik-baik, tidak merugikan orang lain dan tidak menyakiti hati orang lain.
Menghindari ghibah (membicarakan aib orang lain) juga merupakan bentuk menjaga lisan, sebab barangsiapa menutupi kekurangan orang lain, kelak di hari kiamat aibnya ditutup oleh Allah SWT.
Golongan ketiga adalah mereka yang memberi makan orang yang lapar.
Hal ini bisa dimaknai secara luas termasuk memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan, membantu orang lain sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, baik tenaga, pikiran, maupun harta benda.
Ramadan mengajarkan kita untuk lebih peduli terhadap sesama, karena dengan berpuasa, kita merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus.
Hal ini mendorong kita untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung, yang merupakan manifestasi dari ajaran Alquran tentang kasih sayang dan kepedulian.
Golongan keempat adalah mereka yang menjalankan puasa Ramadan.
Sayangnya, banyak orang menjalankan puasa Ramadan sekedar euforia, tanpa didasari iman dan takwa, sehingga mereka tidak mendapat buah dari puasa yaitu bertambah ketakwaannya, namun hanya mendapat lapar dan dahaga.
Hal tersebut karena mereka berpuasa kurang dibekali dengan ilmu tentang berpuasa. Puasanya tidak lebih dari sekedar menahan diri dari makan dan minum saja.
Mereka lupa bahwa yag tidak kalah penting adalah mejaga diri dari berkata kotor, membicaraka aib orang lain dan mejaga pikiran untuk tetap di jalan Allah.
Ketika puasa dijalankan dengan benar, disertai dengan tadarus Alquran, maka ketenangan jiwa akan terasa.
Dengan demikian, ketika kita menjalankan puasa dengan benar disertai menjaga lisan, berbagi dengan sesama, dan menjadikan Alquran sebagai teman sehari-hari, ketenangan jiwa akan hadir dalam kehidupan kita.
Alquran menjadi penerang hati, penunjuk jalan, dan sumber ketenangan yang hakiki di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Dengan menghidupkan spirit "membumikan Alquran lafdhan wa ma'nan wa 'amalan" (dalam bacaan, pemahaman, dan pengamalan) selama Ramadan, kita tidak hanya meraih ketenangan jiwa selama bulan suci, tetapi juga membangun pondasi untuk hidup tenang bersama Alquran sepanjang perjalanan hidup kita.
Penulis:
Luluk Habibah Triwijayati
Guru Alquran Hadist MTsN 9 Jombang
Editor : Ainul Hafidz