Bisnis Desa Kita Features Hiburan Hukum Jombangan Jurnalisme Warga Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Olahraga Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Politika Religia Sosok Wisata

Bertemu Allah di Bulan Penuh Berkah, Karomah dan Mu’jizat bagi yang Berpuasa

Ainul Hafidz • Senin, 3 Maret 2025 | 12:46 WIB

 

Amiruddin, alumni Unversitas Hasyim Asy’ari ‘23
Amiruddin, alumni Unversitas Hasyim Asy’ari ‘23

(Kajian Ilmu Tauhid)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).

Bismillah syukur diawali dari lisan orang beriman membuat hati jadi tenang, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan, orang itu mempunyai tujuh lapisan.

Baca Juga: Ramadan: Bulan Diturunkannya Alquran

Dada (صدر ) dalam dada ada qolbun (قلب ) hati,  dalam qolbun  ada fuadun (فؤاد ) hati sanubari, dalam fuada ada ruh (روح  ) ruh.

Dalam ruh ada sirrun (سر ) rahasia dalam sirrun ada ilmu ( علم) ilmu,  dalam ilmu ada fahmu (فهم ) faham.

Orang tinjau hakekat adalah “nilai” seseorang berkomunikasi dengan Allah pasti berilmu/faham akan rahasia-Nya, dikatakan berilmu jika memenuhi tiga kreteri.

Bersifat koherensi, artinya bahwa ilmu tidak bertentangan dengan akal. Bersifat korespodensi, ilmu itu nyata dan bisa dibuktikan. Pragmatis, bahwa ilmu itu membawa maslahah.

Baca Juga: Binrohtal, Selama Ramadan Sufi Tidak Tidur

Manusia tinjau hakekat adalah “jasad”  bahasa Jawa “wada’ ” artinya manusia jika belum mengenal Allah, maka seperti patung berdiri tegap.

Maka sebagai manusia adalah meng “orangkan” manusia menuju Tuhan:

 إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Pandangan hakekat (نَ رَاجِعُو ) yang artinya “kembali” sejatinya untuk orang yang belum meninggal, sebab yang namanya “kembali” itu masih hidup, bagaimana bisa kembali jika manusia itu sudah meninggal.

Hakikinya  Ramadan

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan: Dinamakan bulan Ramadhan karena ia mengugurkan (membakar) dosa-dosa dengan amal saleh.

Hakekat Ramadan: bulan membakar hawa nafsu hingga muncul kesadaran tinggi. Tentu jiwa terbimbing dengan guru sejati, dapat berkumunikasi dengan Dzat Yang Maha Tunggal, Wujud Tunggal, dan Roso Tunggal.

Baca Juga: Ini Momen Paling Ditunggu Warga Jombang Kuliah di Universitas Al Azhar Mesir saat Ramadan Tiba

Allah menurunkan Alquran sejati (qur’an qodim) yang otomatis bisa membedakan menjadi orang-orang bertakwa.

Dengan semangat Ramadan nafsu-nafsu mut’mainah dapat kepada pada Allah tanpa kesasar. Aamin (*)

Penulis:

Amiruddin

*) Penulis adalah alumni Unversitas Hasyim Asy’ari ‘23 

Editor : Ainul Hafidz
#opini #Jombang Banget #karomah #puasa #allah #universitas hasyim asy’ari #ramadan #ptpn #bertemu